Pemerintah Kabupaten Sumenep – Aktif mengangkat tradisi masyarakat saat merayakan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah melalui Festival Ketupat. Kegiatan ini tidak hanya merayakan momen Lebaran, tetapi juga memperkuat tali silaturahmi antarwarga. Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, Faruk Hanafi, menegaskan bahwa festival ini bertujuan menjaga warisan budaya agar tetap lestari.
Hanafi menyatakan bahwa kegiatan ini menekankan nilai kebersamaan dan gotong royong yang telah tumbuh dan berkembang di masyarakat. Ia menjelaskan bahwa melalui festival, masyarakat dapat merasakan langsung semangat tradisi sambil memperkuat interaksi sosial. Selain itu, festival memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk mengenal tradisi lokal sehingga warisan budaya tidak hilang seiring perkembangan zaman.
Ragam Ketupat dan Antusiasme Peserta
Festival Ketupat menarik ratusan peserta yang menunjukkan kreativitas dalam membuat berbagai bentuk ketupat khas Sumenep. Beberapa jenis ketupat yang ditampilkan antara lain topa’ sangoh, topa’ toju’, topa’ kope’, dan topa’ jharan.
Mayoritas peserta berasal dari Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkab Sumenep, namun masyarakat umum juga berpartisipasi aktif. Kehadiran berbagai kelompok masyarakat menunjukkan sinergi antara pemerintah dan warga dalam melestarikan tradisi. Dengan adanya festival ini, masyarakat tidak hanya menonton, tetapi juga belajar langsung teknik membuat ketupat serta memahami nilai budaya di baliknya.
Selain mengasah keterampilan, festival ini memberi pengalaman interaktif kepada generasi muda. Anak-anak dan remaja dapat menyaksikan proses pembuatan ketupat, mulai dari menganyam hingga menyajikan dalam bentuk menu khas Lebaran. Pengalaman ini membantu mereka menghargai tradisi lokal sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya sendiri.

Festival Ketupat di Pantai Lombang Sumenep, Jawa Timur.
Dua Jenis Kompetisi untuk Mendorong Kreativitas
Festival Ketupat 2026 mengadakan dua jenis lomba utama. Lomba pertama menganyam ketupat, terbuka untuk masyarakat umum. Lomba kedua membuat menu makanan berbahan ketupat, melibatkan ASN, pegawai perangkat daerah, serta pemilik hotel dan restoran.
Melalui kompetisi menganyam ketupat, masyarakat ditantang untuk memadukan kreativitas dengan keterampilan tradisional. Sementara lomba kuliner memberikan kesempatan bagi peserta untuk berinovasi dalam menyajikan ketupat, mengolahnya menjadi hidangan menarik, dan mempromosikan cita rasa lokal. Kompetisi ini juga mendukung pengembangan ekonomi kreatif dengan memanfaatkan bahan lokal serta meningkatkan peluang usaha warga.
Hanafi menegaskan bahwa tujuan festival tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga mendorong penguatan ekonomi masyarakat. Festival ini memperlihatkan bahwa tradisi turun-temurun dapat menjadi sumber inspirasi sekaligus peluang ekonomi, terutama bagi pelaku usaha lokal.
Dampak Edukasi Budaya bagi Generasi Muda
Festival Ketupat menjadi sarana edukasi budaya bagi anak-anak dan remaja. Kegiatan ini membuat generasi muda lebih mengenal tradisi lokal, memahami makna di balik setiap bentuk ketupat, dan belajar menghargai nilai kebersamaan. Dengan keterlibatan aktif dalam festival, mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pembawa tradisi ke masa depan.
Selain edukasi, festival menumbuhkan rasa bangga pada budaya lokal. Nilai gotong royong dan kekompakan yang tercermin dalam kegiatan festival membantu memperkuat identitas sosial masyarakat. Anak-anak dan remaja yang terlibat dapat belajar secara langsung bagaimana budaya dapat membentuk ikatan komunitas, meningkatkan kreativitas, dan memperkuat ekonomi lokal.
Festival Ketupat Memperkuat Tradisi dan Ekonomi
Dengan menyatukan kreativitas, budaya, dan ekonomi dalam satu acara, Pemkab Sumenep berhasil menjadikan Festival Ketupat sebagai ajang yang bermakna. Festival ini memperkaya pengalaman sosial masyarakat, mendorong generasi muda untuk mencintai tradisi, dan memberikan peluang ekonomi melalui lomba kuliner berbasis ketupat.
Festival Ketupat membuktikan bahwa pelestarian budaya tidak harus terpisah dari pengembangan masyarakat. Sebaliknya, kegiatan seperti ini bisa memadukan nilai tradisional, edukasi, dan penguatan ekonomi secara bersamaan. Dengan dukungan penuh warga dan pemerintah, festival diharapkan menjadi acara tahunan yang semakin berwarna dan mampu memperkuat identitas budaya Sumenep di masa depan.