Butter Baby – Jenama kuliner lokal, memperluas inovasinya melalui pengembangan karakter berbasis kekayaan intelektual (IP). Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menyambut langkah ini dengan antusias. Menurutnya, Butter Baby tidak hanya menjual produk kuliner, tetapi juga membangun ekosistem karakter yang menjadi aset strategis Indonesia.
“Saya melihat potensi besar dari Butter Baby. Mereka mampu memadukan kuliner dengan karakter yang kuat sehingga bisa menjadi ikon kreatif Indonesia,” ujar Riefky dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Jumat. Dengan demikian, Butter Baby menegaskan posisinya sebagai pelopor pengembangan IP berbasis kuliner.
Fokus pada Karakter dan Kuliner Anak
Butter Baby menonjol karena menyajikan makanan dan minuman yang menyasar anak-anak serta keluarga. Tidak hanya fokus pada cita rasa, perusahaan juga mengembangkan karakter ikonik yang menyertai setiap produk. Lebih lanjut, karakter ini membantu memperluas nilai IP, sehingga jenama ini bisa bersaing di pasar lokal maupun internasional.
Selain itu, CEO Butter Baby, Shane John Lewis, menekankan bahwa dukungan Kementerian Ekraf memberi dorongan kuat bagi strategi ekspansi mereka. Shane menyatakan, “Kami berencana memperluas pasar ke Thailand dan Malaysia. Oleh karena itu, dukungan kementerian membuat langkah ini lebih mantap dan terarah.”
Grand Opening di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta
Butter Baby akan membuka gerai baru sekaligus menampilkan patung karakter raksasa di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta pada 19 Juni 2026. Kehadiran patung ini bukan sekadar dekorasi, tetapi juga menjadi daya tarik wisatawan. Seiring dengan itu, Menteri Ekraf akan hadir langsung untuk memberikan dukungan penuh terhadap talenta kreatif Indonesia.
“Kehadiran saya di grand opening menunjukkan komitmen pemerintah untuk mendukung karya kreatif yang membanggakan. Butter Baby menjadi contoh bagaimana kuliner dan karakter bisa berpadu menjadi IP bernilai tinggi,” kata Riefky. Dengan demikian, gerai ini diharapkan menjadi etalase kreativitas Indonesia bagi penumpang internasional.

Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, melakukan kunjungan dan audiensi ke gerai Butter Baby di kawasan Pasaraya Blok M, Jakarta, Kamis (2/4/2026).
Sinergi Promosi dan Kolaborasi Kreatif
Lebih lanjut, Butter Baby memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat komunikasi melalui kanal resmi pemerintah. Selain itu, perusahaan merencanakan kolaborasi simbolis dalam perayaan Hari Kemerdekaan. Strategi ini tidak hanya meningkatkan visibilitas Butter Baby, tetapi juga menegaskan posisi jenama lokal sebagai pemain kreatif yang kompetitif.
Selain itu, Butter Baby menggabungkan storytelling, merchandise, dan instalasi interaktif untuk menghadirkan pengalaman konsumen yang lebih mendalam. Dengan demikian, setiap kunjungan ke gerai Butter Baby bukan hanya soal kuliner, tetapi juga hiburan dan edukasi kreatif.
Ekspansi Internasional sebagai Ambisi Strategis
Shane John Lewis menekankan bahwa ekspansi ke Thailand dan Malaysia menjadi bagian dari visi jangka panjang Butter Baby. Dengan langkah ini, perusahaan dapat memperkenalkan kreativitas Indonesia ke pasar internasional dan menegaskan posisi jenama sebagai pemain yang diperhitungkan di Asia Tenggara.
“Oleh karena itu, kami percaya strategi lintas negara akan memperkuat jaringan IP kami sekaligus membangun reputasi jenama di kancah global,” jelas Shane. Seiring dengan itu, Butter Baby membuka peluang kolaborasi dengan pelaku industri kreatif di luar negeri.
Butter Baby sebagai Etalase Kreativitas Indonesia
Hadirnya Butter Baby di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta menjadi etalase kreativitas Indonesia. Selain patung karakter dan gerai kuliner, aktivitas interaktif menampilkan kualitas inovasi lokal. Dengan demikian, wisatawan internasional dapat melihat langsung potensi ekonomi kreatif Indonesia.
Menteri Ekraf menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan Butter Baby membuktikan bahwa dukungan strategis dapat mendorong jenama lokal naik kelas. Oleh karena itu, pengembangan karakter dan IP tidak hanya memberi nilai bisnis, tetapi juga memperkuat citra kreatif Indonesia di dunia.
Kesimpulan
Butter Baby membuktikan bahwa kuliner dan karakter berbasis IP bisa berpadu menciptakan pengalaman unik bagi konsumen. Selain itu, dukungan pemerintah, grand opening di Bandara Soekarno-Hatta, dan rencana ekspansi internasional menegaskan potensi jenama lokal di pasar global.
Dengan strategi kreatif ini, Butter Baby tidak hanya menjual kuliner, tetapi juga membangun pengalaman interaktif, meningkatkan nilai IP, dan membuka peluang bagi jenama lokal lain untuk mengikuti jejak kesuksesan mereka. Seiring dengan itu, langkah ini menunjukkan bahwa inovasi berbasis IP menjadi kunci utama dalam memajukan ekonomi kreatif Indonesia.