Kabut Asap Karhutla Kalimantan mulai memengaruhi sejumlah wilayah di Filipina dan mendorong otoritas lingkungan setempat meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi udara. Biro Manajemen Lingkungan atau Environmental Management Bureau (EMB) Wilayah XI meminta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan, anak-anak, serta kelompok lanjut usia di Kota Davao mengurangi aktivitas fisik dalam waktu lama di luar ruangan.
EMB menyampaikan imbauan tersebut setelah petugas menemukan peningkatan konsentrasi partikulat di sejumlah titik pemantauan. Otoritas menduga angin membawa asap dari kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan menuju wilayah Filipina bagian selatan.
Meski demikian, hasil pemantauan tidak menunjukkan kondisi buruk secara merata. Sebagian besar lokasi masih mencatat kualitas udara dalam kategori baik atau good hingga sedang atau fair. Namun, perubahan konsentrasi partikel di beberapa titik membuat kelompok sensitif perlu meningkatkan kewaspadaan.
EMB Pantau Dampak Kabut Asap di Davao
EMB Wilayah XI memantau kondisi udara melalui sejumlah stasiun yang tersebar di wilayah Davao. Salah satu titik yang mendapat perhatian berada di Calinan, Kota Davao.
Dalam periode 30 Agustus sampai 1 September 2026, Stasiun Pemantauan Kualitas Udara Calinan beberapa kali mendeteksi konsentrasi partikulat yang dapat memberikan dampak lebih besar terhadap kelompok sensitif. Temuan tersebut membuat otoritas mengingatkan warga yang rentan terhadap polusi agar mengurangi paparan udara luar.
Pada Rabu, 2 September 2026 sekitar pukul 18.00 waktu setempat, EMB Wilayah XI menyampaikan perkembangan kondisi tersebut melalui media sosial. Lembaga itu menilai kabut asap karhutla Kalimantan kemungkinan besar memiliki hubungan dengan kabut yang mulai terlihat di beberapa kawasan Filipina, termasuk Davao del Sur.
Menurut EMB, pergerakan angin memungkinkan asap kebakaran dari Kalimantan melintasi batas negara dan bergerak menuju Filipina. Fenomena tersebut dikenal sebagai transboundary haze atau kabut asap lintas batas.
Kelompok Sensitif Perlu Mengurangi Paparan
Walaupun sebagian besar hasil pengukuran masih menunjukkan konsentrasi partikulat dalam batas yang dapat di terima, EMB tetap meminta kelompok rentan berhati-hati.
Anak-anak, lansia, serta orang dengan gangguan pernapasan sebaiknya tidak melakukan aktivitas fisik berat terlalu lama di luar ruangan ketika konsentrasi polutan meningkat. Imbauan tersebut terutama berlaku bagi masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di kawasan yang menunjukkan peningkatan partikel mikroskopis.
EMB memanfaatkan tiga stasiun utama di Malita, Digos, dan Calinan untuk mengamati perkembangan kualitas udara. Data dari ketiga lokasi tersebut secara umum memperlihatkan kadar PM10 dan PM2.5 yang masih dapat di terima. Namun, kabut asap mulai memberikan pengaruh terhadap kondisi atmosfer di beberapa wilayah.
Pemantauan secara berkelanjutan menjadi penting karena arah dan kecepatan angin dapat memengaruhi penyebaran kabut asap karhutla Kalimantan. Kondisi udara juga dapat berubah dalam waktu relatif singkat ketika konsentrasi partikel mengalami peningkatan.
Mengenal Bahaya PM10 dan PM2.5
Petugas menggunakan konsentrasi PM10 dan PM2.5 sebagai salah satu indikator untuk mengukur kualitas udara. Kedua istilah tersebut merujuk pada ukuran partikel yang melayang di udara.
PM10 mencakup partikel yang memiliki di ameter 10 mikrometer atau lebih kecil. Manusia dapat menghirup partikel tersebut melalui saluran pernapasan.
Sementara itu, PM2.5 memiliki ukuran jauh lebih kecil, yakni 2,5 mikrometer atau kurang. Ukurannya yang sangat halus membuat PM2.5 perlu mendapat perhatian lebih besar.
Departemen Kesehatan menjelaskan bahwa PM2.5 dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Partikel halus tersebut bahkan dapat mencapai bagian dalam paru-paru dan kemudian memasuki aliran darah. Karena itu, peningkatan konsentrasi PM2.5 dapat menimbulkan risiko lebih besar, terutama bagi masyarakat yang memiliki sensitivitas terhadap pencemaran udara.

Kabut asap akibat Karhutla di Bulungan berdampak ke Nunukan. Kabut terlihat lumayan pekat dari jalan utama Nunukan.
Kondisi Udara Malita, Digos, dan Calinan
Data pemantauan periode 26 Agustus hingga 1 September 2026 memperlihatkan kondisi yang berbeda pada tiga stasiun utama.
Stasiun Malita di Davao Occidental mencatat kualitas udara kategori good. Hasil pengukuran PM10 maupun PM2.5 di kawasan tersebut tetap berada dalam batas aman selama periode pemantauan.
Sementara itu, Stasiun Digos yang berada di Kompleks Kapitol Provinsi, Barangay Matti, Digos City, Davao del Sur mencatat kualitas udara kategori fair berdasarkan data terakhir pada 1 September 2026.
Stasiun Calinan di Kota Davao juga mencatat kategori fair. Namun, lokasi tersebut sempat mengalami kondisi unhealthy for sensitive groups atau tidak sehat bagi kelompok sensitif dalam rentang 30 Agustus hingga 1 September 2026.
Perubahan di Calinan menjadi salah satu alasan otoritas meminta masyarakat rentan mengurangi aktivitas berkepanjangan di luar ruangan.
Pemantauan Kualitas Udara Terus Berjalan
DENR-EMB Wilayah XI akan terus mengawasi kualitas udara untuk mengetahui perkembangan penyebaran kabut asap. Pemantauan rutin juga membantu pemerintah menyediakan informasi terbaru agar masyarakat dapat menyesuaikan aktivitas berdasarkan kondisi udara.
Situasi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa dampak kebakaran hutan dan lahan dapat meluas melewati batas negara. Ketika pola angin mendukung pergerakan asap, partikel dari titik kebakaran dapat menjangkau wilayah yang berjarak cukup jauh.
Karena itu, masyarakat di kawasan yang mulai terdampak kabut asap karhutla Kalimantan perlu mengikuti perkembangan informasi kualitas udara. Kelompok sensitif juga perlu lebih berhati-hati ketika otoritas mendeteksi peningkatan konsentrasi PM10 maupun PM2.5.