Jet Tempur J-10CE Uzbekistan kini resmi memperkuat kemampuan pertahanan udara negara Asia Tengah tersebut. Kehadiran pesawat tempur buatan China itu sekaligus menempatkan Uzbekistan sebagai negara kedua di luar China yang mengoperasikan J-10CE setelah Pakistan.

Kantor Presiden Uzbekistan mengungkap keberadaan pesawat tersebut melalui rekaman perayaan Hari Kemerdekaan Uzbekistan pada Jumat, 28 Agustus 2026. Rekaman itu memperlihatkan sedikitnya enam J-10CE berada di landasan sekaligus melakukan penerbangan dalam formasi.

Kendaraan pemadam kebakaran juga menyambut kedatangan jet tersebut dengan semprotan air. Otoritas biasanya menggunakan seremoni semacam itu untuk menandai kedatangan pesawat atau momen penting dalam dunia penerbangan.

Kementerian Pertahanan Uzbekistan kemudian memperkuat konfirmasi tersebut dengan mempublikasikan video resmi J-10CE pada Minggu, 30 Agustus 2026. Televisi pemerintah turut menayangkan rekaman yang sama dan memperkenalkan pesawat itu sebagai jet tempur modern untuk menjaga wilayah udara Uzbekistan.

Uzbekistan Dikabarkan Memesan 24 J-10CE

Sebelum kemunculan enam pesawat tersebut, sejumlah laporan menyebut Uzbekistan telah memesan 24 unit J-10CE dari China. South China Morning Post termasuk media yang melaporkan informasi mengenai rencana pengadaan tersebut.

Meski demikian, pemerintah China dan Uzbekistan belum memberikan konfirmasi resmi mengenai kontrak pembelian 24 pesawat. Karena itu, jumlah keseluruhan J-10CE yang akan masuk ke armada Uzbekistan masih belum mendapat kepastian resmi.

Pakistan lebih dahulu menjadi pelanggan asing pertama J-10CE. Negara Asia Selatan tersebut telah mengoperasikan jet tempur buatan China itu sebelum Uzbekistan memasukkannya ke dalam kekuatan militernya.

Laporan Pentagon mengenai kekuatan militer China menyebut Pakistan telah menerima 20 unit J-10CE hingga Mei tahun lalu. Jet tersebut kemudian mendapatkan perhatian lebih luas setelah Pakistan menggunakannya ketika konflik singkat dengan India pecah pada Mei tahun lalu.

Pakistan mengklaim berhasil menjatuhkan sejumlah pesawat India selama konflik tersebut. Namun, berbagai pihak masih memperdebatkan jumlah pasti pesawat yang jatuh.

Sejumlah pejabat Amerika Serikat sebelumnya mengatakan kepada Reuters bahwa Pakistan menjatuhkan sedikitnya dua pesawat militer India. Salah satu pesawat yang mereka sebut merupakan Rafale buatan Perancis.

China Perluas Pasar Pesawat Tempur

Brendan Mulvaney yang memimpin US Air Force’s China Aerospace Studies Institute melihat penjualan J-10CE kepada Uzbekistan sebagai bagian dari strategi Beijing untuk memperluas pasar pesawat militernya.

China berpeluang menyasar negara-negara yang selama ini memiliki akses terbatas terhadap pesawat tempur Amerika Serikat maupun produk dari pemasok besar lainnya.

Menurut Mulvaney, Tashkent kemungkinan mempertimbangkan sejumlah faktor sebelum memilih J-10CE. Pertimbangan itu mencakup harga, ketersediaan unit, skema pembiayaan, paket persenjataan hingga kondisi politik yang menyertai transaksi pertahanan.

Dari sisi harga, J-10CE menawarkan biaya yang lebih rendah dibandingkan beberapa jet tempur Barat seperti Rafale dan Eurofighter Typhoon. Ketersediaan pesawat juga dapat memberikan keuntungan bagi China ketika sejumlah produsen lain menghadapi antrean produksi.

Pada saat bersamaan, sanksi internasional ikut memberikan tekanan terhadap industri pertahanan Rusia. Situasi tersebut berpotensi membuka ruang lebih besar bagi Beijing untuk menawarkan produk militernya kepada pasar internasional.

Jet tempur J-10CE Uzbekistan

Jet tempur J-10 yang merupakan jet tempur multiperan. Dibuat oleh perusahaan Chengdu Aerospace Corporation di China.

Radar AESA dan PL-15E Jadi Kekuatan J-10CE

J-10CE tidak hanya mengandalkan harga untuk menarik calon pembeli. Pesawat tempur generasi 4,5 tersebut membawa sejumlah teknologi yang memperkuat kemampuannya dalam menjalankan misi modern.

Mulvaney menyoroti penggunaan radar active electronically scanned array atau AESA dan rudal PL-15E sebagai dua kemampuan penting yang J-10CE tawarkan kepada penggunanya.

Menurut penilaiannya, PL-15E memiliki jangkauan yang lebih jauh dibandingkan sejumlah persenjataan yang melengkapi beberapa pesawat Rafale maupun jet tempur buatan Rusia.

Rudal tersebut memakai sistem pemandu radar dan dapat menyerang target di luar jarak pandang visual pilot. Selain PL-15E, J-10CE juga dapat membawa rudal udara-ke-udara jarak pendek PL-10.

Royal United Services Institute atau RUSI mencatat Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat China mengoperasikan lebih dari 300 J-10C. China menggunakan varian tersebut sebagai basis pengembangan J-10CE untuk pasar ekspor.

J-10C dan J-10CE membawa radar AESA, teknologi peperangan elektronik modern serta sistem data-link. Produsen merancang pesawat bermesin tunggal tersebut untuk menjalankan berbagai jenis operasi, mulai dari pertempuran udara hingga serangan terhadap sasaran di darat.

J-10CE Naik Kelas di Pasar Internasional

China sebenarnya telah lama menjual pesawat tempur ke berbagai negara. Beijing sebelumnya menawarkan produk dengan harga relatif terjangkau seperti F-7 dan JF-17.

China mengembangkan JF-17 bersama Pakistan. Sejumlah negara kemudian membeli pesawat tersebut, termasuk Azerbaijan, Nigeria dan Myanmar.

Namun, J-10CE membawa ambisi yang berbeda. Sebagai versi ekspor pesawat generasi 4,5, jet ini memberi China kesempatan untuk memasuki segmen pasar pesawat tempur yang lebih tinggi dan bersaing dengan produk dari negara lain.

Keputusan Uzbekistan mengoperasikan J-10CE juga dapat memperkuat posisi pesawat tersebut di pasar ekspor. Keberadaan pelanggan baru menunjukkan bahwa Beijing mulai memperluas jangkauan penjualan J-10CE di luar Pakistan.

China bahkan berpeluang memperoleh pelanggan tambahan. Bangladesh baru-baru ini menyampaikan kepada Reuters bahwa proses menuju kesepakatan pembelian J-10CE sudah mendekati tahap akhir.

Bangladesh turut mengakui bahwa konflik Pakistan dan India memengaruhi pertimbangannya terhadap pesawat buatan China tersebut. Perhatian internasional terhadap performa J-10CE selama konflik itu pada akhirnya ikut meningkatkan profil jet tersebut.

Dengan masuknya jet tempur J-10CE Uzbekistan, China memperoleh pijakan baru dalam pasar pertahanan Asia Tengah. Jika Beijing dan Tashkent nantinya mengonfirmasi pengadaan hingga 24 unit, kesepakatan tersebut berpotensi semakin memperkuat posisi J-10CE sebagai salah satu produk utama China untuk pasar pesawat tempur internasional.