World Boxing Council (WBC) – Mengambil langkah tegas dengan mencabut gelar juara dunia sementara (interim) kelas terbang (50,8 kg) milik Francisco Rodriguez Jr. Langkah ini muncul setelah hasil tes menunjukkan penggunaan zat terlarang dalam tubuh Rodriguez. Selain pencabutan gelar, hasil pertarungan Rodriguez melawan Galal Yafai pada Juni 2025 di Birmingham, Inggris, berubah menjadi no contest, sehingga tidak tercatat sebagai kemenangan resmi.

Program Tinju Bersih WBC Ungkap Zat Terlarang

Voluntary Anti-Doping Association (VADA) menemukan zat Heptaminol dalam sampel urine Rodriguez. Zat ini bekerja sebagai stimulan jantung dan vasodilator, sekaligus metabolit Octodrine, yang masuk daftar zat terlarang WBC dan Badan Anti-Doping Dunia (WADA). WBC langsung menghubungi Rodriguez dan memulai penyelidikan untuk mengetahui penyebab konsumsi zat terlarang tersebut.

Rodriguez menjelaskan bahwa ia mengonsumsi suplemen energi bernama Lipodrene, yang menurut literatur ilmiah, berpotensi mengandung Octodrine atau zat terlarang lain secara tidak sengaja. Ia juga menegaskan bahwa telah melaporkan penggunaan suplemen tersebut saat mendaftar di Program Tinju Bersih WBC. Hal ini menjadi faktor penting karena menunjukkan tidak ada niat sengaja untuk meningkatkan performa melalui doping.

WBC

Petinju Francisco Rodriguez (kiri) menjatuhkan lawannya Galal Yafai (kanan) saat keduanya bertarung untuk perebutan gelar juara interim kelas terbang WBC di Brimingham, Inggris, Minggu (22/6/2025) WIB. (WBC)

Kesepakatan Adjudikasi dan Masa Percobaan

WBC dan Rodriguez menandatangani Perjanjian Adjudikasi, yang menetapkan beberapa ketentuan. Pertama, gelar juara sementara di cabut dan hasil pertarungan di ubah menjadi no contest. Kedua, Rodriguez menjalani masa percobaan selama satu tahun sejak tanggal pengambilan sampel.

Selama masa percobaan, ia mengikuti minimal tiga tes anti-doping acak oleh VADA dengan biaya ditanggung sendiri. Selain itu, ia wajib mengikuti program edukasi tentang nutrisi dan pencegahan penggunaan zat terlarang. Rodriguez juga aktif berpartisipasi dalam kegiatan tanggung jawab sosial untuk meningkatkan kesadaran tentang fair play di dunia tinju.

Rodriguez dan timnya bekerja sama sepenuhnya dengan WBC sepanjang proses adjudikasi. Mereka mengikuti setiap prosedur dan arahan yang ditetapkan, menegaskan komitmen terhadap integritas olahraga dan transparansi.

Konflik dengan UK Anti-Doping

Pada 30 Maret 2026, United Kingdom Anti-Doping (UKAD) mengumumkan sanksi larangan bertanding selama dua tahun terkait temuan yang sama. WBC berusaha berkomunikasi dengan UKAD untuk menjelaskan Perjanjian Adjudikasi dan keputusan manajemen hasil Program Tinju Bersih, tetapi UKAD tidak menanggapi. Meskipun demikian, WBC menegaskan bahwa pertarungan Rodriguez melawan Yafai berada sepenuhnya di bawah yurisdiksi mereka.

WBC menilai Perjanjian Adjudikasi yang dibuat bersama Rodriguez adil dan sesuai prosedur. Oleh karena itu, organisasi ini tetap mengizinkan Rodriguez bertanding di ajang WBC selama ia mematuhi semua aturan dan edukasi anti-doping.

Dampak dan Pentingnya Edukasi Anti-Doping

Kasus ini menekankan bahwa program anti-doping harus berjalan transparan dan konsisten. Program Tinju Bersih WBC tidak hanya mendeteksi pelanggaran, tetapi juga mencegah penggunaan zat terlarang di masa mendatang. Program ini meliputi edukasi, tes acak, dan pembinaan atlet untuk memahami risiko suplemen yang tidak terkontrol.

Rodriguez kini menjadi contoh bagi atlet lain bahwa kepatuhan pada aturan dan laporan penggunaan suplemen dapat meringankan konsekuensi. Keputusan WBC menciptakan keseimbangan antara menegakkan disiplin dan memberi kesempatan bagi atlet yang bersedia mematuhi aturan.

Kesimpulan

Pencabutan gelar Rodriguez mengingatkan semua pihak bahwa olahraga tinju menuntut fair play, disiplin, dan tanggung jawab. WBC menegaskan bahwa integritas kompetisi tetap menjadi prioritas, sementara edukasi anti-doping menjadi kunci mencegah kasus serupa. Rodriguez menjalani masa percobaan, tes acak, dan edukasi, tetapi tetap bisa bertanding di bawah naungan WBC dengan syarat mematuhi semua ketentuan. Kasus ini menunjukkan bahwa kombinasi pengawasan ketat, edukasi, dan kesempatan rehabilitasi dapat menjaga integritas olahraga tinju sekaligus melindungi atlet.