Tradisi Mappaende menjadi salah satu warisan budaya yang terus masyarakat Kecamatan Bulo, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, jaga hingga sekarang. Warga pegunungan Bulo menggelar tradisi tersebut setiap tahun setelah menyelesaikan masa panen sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil bumi yang mereka peroleh.
Pada Sabtu, 22 Agustus 2026, ratusan warga menghadiri pelaksanaan Mappaende di salah satu rumah penduduk Desa Bulo, Kecamatan Bulo. Para pemangku adat turut hadir dan memimpin sejumlah rangkaian kegiatan yang telah masyarakat setempat pertahankan dari generasi ke generasi.
Warga tidak datang dengan tangan kosong. Mereka membawa beragam hasil pertanian dari wilayah Bulo. Durian menjadi salah satu buah yang mendapat perhatian karena masyarakat setempat menjadikannya bagian dari hasil pertanian penting di kawasan pegunungan tersebut.
Kehadiran hasil bumi dalam Mappaende memiliki makna tersendiri. Masyarakat menunjukkan sumber penghidupan mereka sekaligus mensyukuri hasil pertanian yang telah mereka nikmati sepanjang musim panen.
Prosesi Menginjak Kampak Mengandung Harapan Kehidupan Damai
Tradisi Mappaende memiliki sejumlah prosesi yang sarat simbol. Salah satunya berupa ritual menginjak kampak yang berada di dalam nampan berisi air. Warga menempatkan nampan tersebut di depan anak tangga menuju rumah tempat pelaksanaan kegiatan.
Setiap orang yang hendak memasuki rumah harus terlebih dahulu menginjak kampak tersebut. Prosesi ini bukan sekadar bagian seremonial, tetapi membawa pesan mengenai harapan masyarakat terhadap kehidupan pada masa mendatang.
Tokoh Adat Bulo, Edi Toppo, menjelaskan bahwa air dalam prosesi tersebut menggambarkan harapan akan kehidupan yang selalu terasa sejuk dan tenteram. Masyarakat juga berharap dapat menghadapi serta menyelesaikan setiap persoalan yang muncul dalam kehidupan mereka.
Dengan demikian, rangkaian Mappaende memuat doa dan harapan masyarakat agar kehidupan setelah musim panen tetap berjalan harmonis. Nilai tersebut terus para pemangku adat sampaikan kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Mappaende Menjadi Forum Membahas Masa Tanam dan Aturan Adat
Masyarakat Bulo tidak hanya memanfaatkan tradisi Mappaende untuk menyampaikan rasa syukur. Pertemuan tahunan tersebut juga menyediakan ruang bagi warga dan pemangku adat untuk membahas berbagai persoalan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat.
Edi menjelaskan bahwa warga dapat menentukan waktu untuk memulai kembali kegiatan bercocok tanam melalui pertemuan tersebut. Pemangku adat dan masyarakat sekaligus membicarakan berbagai ketentuan adat yang masih mereka pertahankan.
Fungsi tersebut membuat Mappaende memiliki peran penting dalam kehidupan sosial masyarakat Bulo. Tradisi ini menghubungkan kegiatan pertanian, kehidupan bersama, serta aturan adat dalam satu momentum tahunan.
Para pemangku adat juga menggunakan kesempatan tersebut untuk menyampaikan pasang, yakni pesan-pesan adat yang berasal dari para leluhur. Mereka terus mengulang pesan tersebut setiap tahun agar masyarakat tetap memahami nilai yang telah generasi terdahulu wariskan.
Menurut Edi, masyarakat berpotensi melupakan pesan leluhur apabila para tokoh adat tidak menyampaikannya secara berkala. Karena alasan itulah, pelaksanaan Mappaende menjadi kesempatan penting untuk mengenalkan kembali nilai adat kepada generasi masa kini.

Tradisi unik bernama Mappaende oleh masyarakat wilayah pegunungan di Kecamatan Bulo, Polman.
Makan Durian Bersama Pererat Hubungan Antarwarga
Setelah menyelesaikan prosesi adat dan doa bersama, masyarakat melanjutkan tradisi Mappaende dengan menikmati durian bersama. Warga duduk dan berkumpul sembari menyantap buah yang mereka bawa dari hasil pertanian setempat.
Kegiatan sederhana tersebut memperkuat suasana kebersamaan dalam perayaan seusai panen. Masyarakat dapat berinteraksi, menjaga hubungan kekeluargaan, dan mempererat silaturahmi melalui pertemuan tahunan itu.
Warga juga tidak menghabiskan seluruh durian di lokasi kegiatan. Mereka membawa sebagian buah pulang agar anggota keluarga yang tidak mengikuti acara tetap dapat menikmati hasil panen tersebut.
Pada masa lalu, masyarakat menghadirkan lebih banyak jenis hasil bumi dalam Mappaende. Padi termasuk komoditas yang pernah menjadi bagian dari tradisi tersebut. Namun, perubahan kebiasaan masyarakat membuat padi semakin jarang hadir dalam rangkaian kegiatan.
Edi menerangkan bahwa masyarakat dahulu menyimpan padi dengan cara yang berbeda dibandingkan sekarang. Perkembangan zaman kemudian mengubah kebiasaan tersebut. Karena itu, masyarakat kini lebih banyak menghadirkan hasil pertanian yang masih mereka kelola dan simpan, termasuk berbagai buah-buahan.
Menjaga Adat Tanpa Meninggalkan Nilai Agama
Masyarakat Bulo terus mempertahankan Mappaende sebagai warisan leluhur, tetapi mereka tetap menyesuaikan pelaksanaannya dengan norma agama. Edi menegaskan bahwa masyarakat menjalankan rangkaian kegiatan dengan tetap menghormati nilai-nilai keagamaan.
Bagi generasi sekarang, Mappaende sekaligus membuka kesempatan untuk memahami cara masyarakat terdahulu menyampaikan rasa syukur, doa, dan harapan. Warga mempertahankan nilai tersebut tanpa mengabaikan perkembangan kehidupan sosial maupun keyakinan yang mereka jalankan.
Pada akhirnya, tradisi Mappaende memiliki arti yang lebih luas daripada sekadar perayaan setelah panen. Masyarakat Bulo menjadikannya sarana untuk mensyukuri hasil bumi, menjaga hubungan antarwarga, merencanakan masa tanam berikutnya, serta meneruskan pesan adat kepada generasi muda.
Keberlangsungan tradisi ini juga menunjukkan upaya masyarakat pegunungan Polewali Mandar dalam mempertahankan identitas budaya mereka. Di tengah perubahan zaman, Mappaende tetap menjadi ruang pertemuan antara hasil pertanian, kebersamaan masyarakat, nilai agama, dan warisan leluhur.