Mata Air Kuno – Warga menemukan batu lingga berinskripsi aksara kuno di Dukuh Jogodayoh Lor, Desa Gumulan, Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten Klaten. Batu tersebut berada di area gang permukiman dan langsung menarik perhatian warga serta pemerhati sejarah.
Para peneliti kemudian meneliti tulisan pada batu tersebut. Mereka membaca kata “Palyangan” pada prasasti itu. Temuan ini memunculkan berbagai tafsir tentang makna dan fungsi batu tersebut pada masa lalu.
Makna “Palyangan” Menurut Ahli Budaya
Pamong budaya ahli pertama Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah menjelaskan bahwa kata “Palyangan” kemungkinan berarti tempat berlubang. Ia menilai istilah itu sering muncul dalam konteks prasasti kuno di Jawa.
Lubang dalam makna ini tidak selalu berbentuk besar. Lubang bisa berarti mata air, cekungan tanah, atau titik penanda batu. Dalam beberapa kasus, lubang juga berfungsi sebagai tempat penancapan batu lingga patok.
Ahli tersebut juga mengaitkan istilah itu dengan penanda wilayah sima. Pada masa lalu, masyarakat menggunakan batu sebagai tanda batas tanah yang memiliki status khusus.
Pandangan Sejarawan Lokal Klaten
Seorang pegiat sejarah Klaten, Hari Wahyudi, menilai “Palyangan” tidak hanya berarti lubang secara harfiah. Ia menyebut istilah itu merujuk pada lokasi yang memiliki cekungan atau karakter geografis tertentu.
Ia merujuk catatan epigraf Belanda, J.L.A Brandes (1913). Dalam catatan itu, istilah Palyangan muncul dalam beberapa prasasti di Jawa Tengah.
Menurutnya, Palyangan bisa berarti area berlubang seperti mata air atau saluran air. Ia juga menyebut kemungkinan istilah itu merujuk pada lokasi penting yang memiliki nilai khusus pada masa lampau.
Hari menjelaskan bahwa masyarakat masa lalu mungkin menandai lokasi penting dengan batu lingga. Penanda ini menunjukkan batas atau titik sakral di suatu wilayah.
Ia juga menyebut bahwa idealnya penanda semacam ini terdiri dari beberapa titik. Biasanya terdapat empat penanda sesuai arah mata angin. Namun, temuan di Klaten masih belum lengkap.

Prasasti Jogodayoh Lor, Desa Gumulan, Kecamatan Klaten Tengah, Minggu (14/6/2026).
Kondisi Geografis Sekitar Lokasi
Wilayah Jogodayoh Lor memiliki banyak sumber mata air. Warga masih menemukan beberapa umbul dan sendang di sekitar lokasi.
Di sebelah timur dusun terdapat Sumber Kemuning. Airnya jernih dan keluar langsung dari dinding tanah. Tidak jauh dari lokasi itu, terdapat Sumber Gayam dengan air yang lebih keruh.
Di wilayah selatan, terdapat bekas kolam ikan yang sudah tidak aktif. Sementara itu, di sekitar utara terdapat Sendang Mbalong yang masih digunakan warga.
Wilayah sekitar juga memiliki beberapa dukuh lain dengan nama yang berkaitan dengan air, seperti Sendangrejo dan Sedangan. Banyak sumber air di daerah itu sudah hilang karena perubahan fungsi lahan menjadi permukiman.
Cerita Warga tentang Mata Air
Warga setempat menyebut wilayah mereka sejak dulu kaya akan mata air. Miswan, warga setempat, mengatakan banyak sendang dan umbul masih aktif hingga sekarang.
Ia menjelaskan bahwa beberapa sumber air sudah berubah menjadi kawasan permukiman. Namun, sebagian masih digunakan warga untuk kebutuhan sehari-hari.
Warga lain, Dedi, juga menguatkan cerita tersebut. Ia menyebut bahwa dulu masyarakat bisa mendapatkan air tanah dengan sangat mudah.
Menurut cerita keluarga mereka, dulu air tanah bisa muncul hanya dengan menggali beberapa meter saja. Hal ini menunjukkan kondisi lingkungan yang sangat mendukung sumber air alami.
Kesimpulan: Palyangan sebagai Jejak Sejarah Air dan Wilayah
Temuan prasasti bertuliskan “Palyangan” memperkuat bukti adanya sistem penandaan wilayah pada masa lalu. Kata tersebut kemungkinan berkaitan dengan kondisi geografis seperti lubang, mata air, atau cekungan tanah.
Kondisi lingkungan di sekitar lokasi juga mendukung tafsir tersebut. Banyak sumber air ditemukan di kawasan itu sejak dulu hingga sekarang.
Namun, makna pasti “Palyangan” masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Para ahli perlu mengkaji lebih dalam untuk memahami fungsi prasasti dan konteks wilayah pada masa lalu.