AI Di E-commerce semakin mengubah cara perusahaan menjalankan bisnis digital sekaligus meningkatkan pengalaman belanja pelanggan. Berbagai platform perdagangan online kini memanfaatkan kecerdasan buatan untuk menghadirkan layanan yang lebih cepat, personal, dan efisien. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul ancaman keamanan siber yang semakin kompleks. Seiring meningkatnya penggunaan AI, pelaku kejahatan digital juga memanfaatkan teknologi otomatis untuk melancarkan serangan yang lebih canggih.
Saat ini, perusahaan e-commerce memanfaatkan AI dalam berbagai aspek operasional. Teknologi tersebut mendukung chatbot layanan pelanggan, menyusun rekomendasi produk berdasarkan preferensi pengguna, hingga mengotomatisasi proses pemesanan. Karena manfaatnya semakin terasa, banyak pelaku bisnis menjadikan AI sebagai bagian penting dalam strategi transformasi digital.
Meski demikian, peningkatan penggunaan AI ternyata membuka peluang baru bagi para pelaku serangan siber. Kondisi tersebut mendorong perusahaan untuk memperkuat sistem keamanan agar mampu menghadapi ancaman yang berkembang semakin cepat.
Laporan Akamai Ungkap Lonjakan Aktivitas Bot
Perusahaan keamanan siber Akamai mengungkap tren tersebut melalui laporan State of the Internet (SOTI): Securing the Agentic Storefront: Attacks on Commerce. Laporan itu menunjukkan bahwa peningkatan adopsi AI di sektor perdagangan digital berjalan seiring dengan melonjaknya aktivitas bot berbahaya yang menyasar platform e-commerce.
Di kawasan Asia Pasifik (APAC), serangan bot terhadap perusahaan perdagangan digital meningkat hingga 63 persen sepanjang 2025. Angka tersebut menjadi pertumbuhan tertinggi di bandingkan wilayah lain di dunia.
Selain itu, selama periode Juli hingga Desember 2025, sektor perdagangan digital menyumbang 38 persen dari seluruh lalu lintas bot berbasis AI yang diamati Akamai di berbagai industri di kawasan APAC. Temuan tersebut memperlihatkan bahwa industri e-commerce kini menjadi salah satu sasaran utama serangan otomatis.
Menurut Akamai, perusahaan tidak lagi cukup mengandalkan pendekatan keamanan konvensional. Mereka harus menyesuaikan strategi pertahanan digital dengan perkembangan AI yang terus meluas di berbagai lini bisnis.
Agentic Commerce Membuka Tantangan Baru
Laporan tersebut juga menjelaskan bahwa semakin banyak perusahaan ritel mengadopsi konsep agentic commerce. Konsep ini memanfaatkan AI untuk menjalankan berbagai proses bisnis secara lebih mandiri tanpa banyak campur tangan manusia.
Melalui pendekatan tersebut, AI dapat membantu pelanggan menemukan produk yang sesuai, memberikan rekomendasi berdasarkan kebiasaan berbelanja, hingga mendorong konsumen menyelesaikan transaksi. Dengan demikian, perusahaan dapat meningkatkan efisiensi sekaligus memberikan pengalaman belanja yang lebih personal.
Di sisi lain, penggunaan chatbot berbasis AI juga terus berkembang. Banyak perusahaan berlomba menghadirkan layanan pelanggan yang responsif dan tersedia selama 24 jam.
Director of Security Technology and Strategy APJ Akamai, Reuben Koh, menjelaskan bahwa setiap fitur digital baru menghadirkan titik akses tambahan yang wajib di amankan. Menurutnya, interaksi pelanggan dengan chatbot, sistem pemesanan, maupun integrasi program loyalitas dapat menciptakan celah keamanan apabila perusahaan tidak mengelolanya dengan baik.

Ilustrasi serangan berbasis bot yang meningkat di picu maraknya adopsi AI di sektor e-commerce.
Aktivitas Bot Sulit Di bedakan dengan Pengguna Asli
Semakin canggihnya AI membuat perusahaan menghadapi tantangan baru dalam membedakan aktivitas otomatis yang sah dengan bot berbahaya. Banyak bot kini mampu meniru perilaku pengguna sehingga proses identifikasi menjadi lebih rumit.
Salah satu ancaman yang sering muncul ialah credential stuffing. Pada metode ini, pelaku menggunakan kombinasi nama pengguna dan kata sandi hasil pencurian untuk mengambil alih akun korban secara otomatis.
Selain itu, perusahaan juga menghadapi risiko web scraping, yaitu pengambilan data dari sebuah situs secara otomatis tanpa izin. Pelaku biasanya mengumpulkan informasi produk, harga, maupun data lain yang kemudian di manfaatkan untuk berbagai kepentingan, termasuk aktivitas ilegal.
Karena itu, perusahaan e-commerce perlu meningkatkan kemampuan sistem keamanan agar mampu mengenali pola aktivitas mencurigakan sebelum serangan berkembang menjadi ancaman yang lebih besar.
Industri Perjalanan dan Perhotelan Ikut Menjadi Target
Akamai juga menyoroti meningkatnya ancaman terhadap sektor perjalanan dan perhotelan di kawasan Asia Pasifik. Bahkan, tingkat risikonya di nilai lebih tinggi di bandingkan wilayah lain.
Beberapa faktor mendorong kondisi tersebut. Industri perjalanan memiliki tingkat adopsi layanan digital dan aplikasi seluler yang sangat tinggi. Selain itu, berbagai platform perjalanan saling terhubung melalui sistem pemesanan, pembayaran, hingga program loyalitas pelanggan.
Volume transaksi juga meningkat tajam ketika musim liburan tiba. Periode seperti Tahun Baru Imlek, Golden Week, Diwali, hingga libur akhir tahun mendorong lonjakan aktivitas pengguna. Situasi tersebut memberi peluang lebih besar bagi pelaku kejahatan siber untuk melancarkan serangan otomatis.
Oleh sebab itu, perusahaan di sektor perjalanan maupun perdagangan digital perlu memperkuat sistem keamanan sejak dini. Mereka juga harus mengawasi seluruh titik akses digital secara berkelanjutan agar dapat mendeteksi aktivitas mencurigakan lebih cepat. Dengan langkah tersebut, perusahaan dapat menjaga kepercayaan pelanggan sekaligus meminimalkan risiko gangguan operasional di tengah semakin luasnya pemanfaatan AI dalam dunia bisnis.