Keunikan Rumah Adat Desa Sade Lombok tidak hanya terlihat dari bentuk bangunannya, tetapi juga dari bahan alami, tata ruang, aturan pembangunan, hingga nilai budaya yang masyarakat Sasak pertahankan secara turun-temurun. Rumah tradisional tersebut menjadi bagian penting dari identitas Desa Adat Sade di Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Kebakaran melanda Desa Adat Sade pada Sabtu malam, 22 Agustus 2026. Api menghanguskan sebagian besar rumah warga yang menggunakan material mudah terbakar seperti bambu, kayu, bedek, dan ilalang. Musibah tersebut sekaligus kembali menyoroti pentingnya rumah tradisional Sade sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat Sasak.
Selama ini, wisatawan mengenal Desa Sade sebagai salah satu destinasi budaya di Lombok yang masih mempertahankan kehidupan tradisional masyarakat Sasak. Selain adat dan aktivitas masyarakatnya, arsitektur rumah menjadi daya tarik utama kawasan tersebut.
Bagi masyarakat Sasak, rumah memiliki fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar tempat tinggal. Bangunan tradisional juga membawa nilai sosial, budaya, dan spiritual yang berhubungan erat dengan kehidupan sehari-hari.
1. Memanfaatkan Berbagai Material dari Alam
Salah satu keunikan rumah adat Desa Sade Lombok terletak pada pemilihan material bangunan. Masyarakat memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar untuk membangun tempat tinggal mereka.
Kayu dan bambu membentuk sebagian besar struktur bangunan. Masyarakat kemudian membuat dinding dari anyaman bambu atau bedek. Untuk bagian atap, mereka menggunakan jerami maupun alang-alang.
Teknik pembuatan lantainya juga memiliki karakter tersendiri. Masyarakat mencampurkan tanah liat dengan kotoran kerbau atau kuda, abu jerami, dan sejumlah bahan alami lainnya. Campuran tersebut menghasilkan permukaan lantai yang keras dan padat.
Generasi masyarakat Sasak terus mewariskan teknik tersebut hingga sekarang. Selain itu, mereka secara tradisional memanfaatkan bambu untuk menyambungkan beberapa bagian bangunan sehingga bambu dapat menggantikan fungsi paku pada bagian tertentu.
2. Rumah Memiliki Pintu Rendah Tanpa Jendela
Arsitektur rumah Sasak di Desa Sade mudah dikenali melalui bentuk pintunya. Masyarakat membuat pintu rumah dengan ukuran relatif kecil, sempit, dan rendah.
Rumah tradisional tersebut juga tidak memakai jendela sebagaimana rumah modern pada umumnya. Karakter ini menjadi bagian dari pola arsitektur yang masyarakat setempat pertahankan dari generasi ke generasi.
Bagian atap memperkuat ciri khas bangunan. Bentuknya menukik ke bawah dengan alang-alang sebagai material utama pada atap dan bubungan. Sementara itu, anyaman bambu membentuk bagian dinding rumah.
Perpaduan berbagai unsur tersebut menciptakan karakter visual yang khas sekaligus membedakan rumah Sasak dari banyak arsitektur tradisional lainnya di Indonesia.
3. Rumah Mengandung Nilai Sosial dan Spiritual
Masyarakat Sasak tidak memandang rumah hanya sebagai tempat berlindung dari cuaca atau ruang berkumpul bersama keluarga. Mereka juga menempatkan rumah sebagai bagian dari kehidupan sosial dan spiritual.
Beberapa bagian bangunan memiliki fungsi khusus untuk aktivitas keluarga maupun pelaksanaan tradisi tertentu. Karena itu, masyarakat tidak hanya mempertimbangkan kebutuhan fisik ketika membangun rumah.
Mereka turut memperhatikan bentuk bangunan, tata ruang, serta proses pembangunan berdasarkan nilai budaya yang telah diwariskan oleh generasi sebelumnya.
Konsep tersebut membuat rumah adat menjadi salah satu unsur penting dalam menjaga kesinambungan tradisi masyarakat Desa Sade.

Suasana di Desa Adat Sade di Rembitan, Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.
4. Masyarakat Menentukan Waktu Pembangunan Secara Khusus
Keunikan lain muncul dalam proses menentukan waktu pembangunan. Masyarakat Sasak memiliki pengetahuan tradisional yang menjadi pedoman sebelum memulai pembangunan rumah.
Mereka biasanya merujuk pada papan warige sekaligus meminta pertimbangan pimpinan adat. Melalui cara tersebut, masyarakat menentukan waktu yang mereka anggap tepat untuk memulai pekerjaan.
Dalam kepercayaan setempat, bulan ketiga dan bulan ke-12 pada penanggalan Sasak termasuk periode yang baik untuk membangun rumah. Periode tersebut berkaitan dengan Rabiul Awal dan Dzulhijah.
Sebaliknya, masyarakat menghindari waktu tertentu karena meyakini periode tersebut kurang baik bagi penghuni rumah. Muharram dan Ramadhan termasuk bulan yang secara tradisional mereka hindari untuk memulai pembangunan.
5. Lokasi Pembangunan Tidak Boleh Sembarangan
Selain menentukan waktu, masyarakat juga mempertimbangkan lokasi secara cermat. Tradisi setempat mengenal sejumlah tempat yang mereka anggap kurang sesuai untuk mendirikan rumah.
Beberapa contohnya meliputi bekas perapian, lokasi pembuangan sampah, bekas sumur, serta posisi tertentu yang masyarakat anggap tabu berdasarkan kepercayaan lokal.
Masyarakat juga menjaga pola permukiman yang sudah terbentuk. Mereka tidak membangun rumah secara sembarangan hingga mengubah karakter kawasan tradisional.
Karena itu, pemilik rumah perlu menyesuaikan bentuk, ukuran, dan arah bangunan dengan konsep lingkungan di sekitarnya. Prinsip tersebut membantu masyarakat mempertahankan keteraturan sekaligus identitas arsitektur Desa Sade.
6. Tata Ruang Menyesuaikan Kebutuhan Penghuni
Pembagian ruang menjadi bagian penting dari keunikan rumah adat Desa Sade Lombok. Setiap area memiliki fungsi yang berhubungan dengan kegiatan sehari-hari penghuninya.
Masyarakat menyebut bagian utama rumah sebagai inak bale. Area ini mencakup bale luar dan bale dalam. Penghuni menggunakan bale luar sebagai tempat tidur.
Sementara itu, bale dalam menjalankan sejumlah fungsi penting bagi keluarga, termasuk sebagai tempat menyimpan barang berharga dan berbagai kebutuhan rumah tangga.
Di dalamnya juga terdapat dapur, amben, dan semparte. Masyarakat menggunakan semparte untuk menyimpan makanan serta peralatan rumah tangga. Mereka biasanya membuat bagian tersebut dari bambu dan menempatkannya di area atas.
Selain ruang-ruang tersebut, rumah mempunyai sesangkok yang berfungsi sebagai tempat menerima tamu.
7. Permukiman Sasak Memiliki Beragam Jenis Bangunan
Kawasan tradisional Sasak tidak hanya mempunyai satu bentuk bangunan. Masyarakat mengenal sejumlah jenis bangunan dengan fungsi masing-masing, antara lain Bale Tani, Bale Jajar, Barugaq atau Sekepat, Sekenam, Bale Bonder, Bale Beleq Bencingah, dan Bale Tajuk.
Bale Tani berfungsi sebagai rumah tinggal masyarakat Sasak yang umumnya bekerja sebagai petani. Sementara itu, Bale Jajar mempunyai bentuk yang menyerupai Bale Tani, tetapi keduanya memiliki perbedaan dalam jumlah ruangan. Secara tradisional, masyarakat juga mengaitkan Bale Jajar dengan keluarga yang memiliki kondisi ekonomi lebih tinggi.
Barugaq atau Sekepat memiliki bentuk persegi dan tidak menggunakan dinding. Masyarakat biasanya mendirikan bangunan ini di sekitar rumah untuk menerima tamu karena tradisi setempat tidak selalu memperkenankan setiap tamu memasuki bagian dalam rumah.
Selain itu, Barugaq mempunyai fungsi sosial dalam tradisi midang, yaitu kunjungan seorang pemuda kepada gadis yang ia sukai.
Sekenam mempunyai konsep serupa dengan Barugaq, tetapi masyarakat membangunnya menggunakan enam tiang. Keluarga dapat memanfaatkan tempat tersebut untuk mempelajari tata krama, menanamkan nilai budaya, atau mengadakan pertemuan.
Adapun Bale Bonder berkaitan dengan kepemimpinan dalam masyarakat. Masyarakat biasanya menempatkan bangunan tersebut di tengah permukiman atau kawasan pusat pemerintahan desa. Warga dapat berkumpul di sana untuk membahas sekaligus menyelesaikan berbagai persoalan adat.
Kebakaran yang melanda Desa Sade menunjukkan bahwa rumah-rumah tradisional tersebut bukan sekadar bangunan fisik. Di balik material bambu, kayu, tanah, dan alang-alang tersimpan pengetahuan lokal serta nilai budaya yang telah bertahan selama beberapa generasi.
Oleh karena itu, pelestarian keunikan rumah adat Desa Sade Lombok juga berarti menjaga pengetahuan arsitektur, kehidupan sosial, serta identitas masyarakat Sasak. Proses pemulihan kawasan setelah kebakaran menjadi bagian penting dalam menjaga warisan tersebut agar tetap dapat masyarakat pertahankan dan generasi berikutnya kenali.