Turkiye Dukung Arab Saudi menjadi salah satu perkembangan penting dalam dinamika keamanan Timur Tengah setelah Ankara membuka peluang untuk memenuhi kebutuhan militer Riyadh. Menteri Luar Negeri Turkiye Hakan Fidan menyampaikan kesiapan tersebut di tengah meningkatnya serangan kelompok Houthi Yaman terhadap wilayah Kerajaan.

Fidan menjelaskan bahwa serangkaian serangan yang menyasar Arab Saudi berpotensi menimbulkan kebutuhan baru di bidang pertahanan. Ankara, menurut dia, siap mempelajari bentuk bantuan yang dapat diberikan, terutama terkait kebutuhan teknis militer. Langkah itu juga berkaitan dengan kerja sama pertahanan yang melibatkan Turkiye, Arab Saudi, dan Pakistan.

Meski membuka kemungkinan bantuan, Turkiye tidak menginginkan konflik berkembang semakin luas. Fidan menegaskan bahwa Ankara menolak skenario yang membuat Arab Saudi ikut terseret ke dalam perang Amerika Serikat dan Iran. Menurutnya, Riyadh sendiri tidak memiliki keinginan untuk bergabung dalam konflik tersebut.

Selain membahas dukungan pertahanan, pemerintah Turkiye tetap mendorong jalur diplomasi. Fidan mengatakan berbagai usulan telah disampaikan kepada pihak-pihak yang terlibat sebagai bagian dari upaya menghentikan pertempuran. Namun, keberhasilan langkah diplomatik tersebut tetap membutuhkan persetujuan dari para pihak.

Pakta Pertahanan Jadi Dasar Kerja Sama

Peluang bantuan dari Ankara tidak berdiri sendiri. Turkiye, Arab Saudi, dan Pakistan sebelumnya menandatangani Mecca Joint Defence Agreement atau Perjanjian Pertahanan Bersama Mekkah pada 7 Agustus 2026.

Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menandatangani kesepakatan tersebut dalam pertemuan di Mekkah. Ketiga negara sepakat memperkuat keamanan kolektif sekaligus memperluas kerja sama di sektor pertahanan.

Kesepakatan itu membawa prinsip pertahanan bersama yang kuat. Ketiga negara memandang serangan bersenjata terhadap salah satu anggota sebagai serangan terhadap seluruh anggota. Prinsip tersebut membuat mekanismenya memiliki kemiripan teknis dengan konsep pertahanan kolektif NATO, meskipun kedua organisasi memiliki struktur berbeda.

Pada 31 Agustus 2026, ketiga negara melanjutkan proses institusionalisasi kerja sama itu. Mereka menyepakati pembentukan sekretariat di Arab Saudi. Seorang sekretaris jenderal dari Pakistan akan memimpin lembaga tersebut untuk masa jabatan awal tiga tahun.

Pakistan Tegaskan Komitmen kepada Arab Saudi

Pakistan juga menunjukkan komitmen terhadap keamanan Arab Saudi. Juru bicara militer Pakistan Letnan Jenderal Ahmed Sharif Chaudhry mengatakan Islamabad siap membela Kerajaan jika keadaan menuntut penerapan komitmen pertahanan bersama.

Chaudhry bahkan menyebut Pakistan dapat memberikan dukungan secara fisik. Namun, pernyataan itu belum berarti pengerahan pasukan langsung telah berlangsung. Pemerintah Pakistan sebelumnya menyatakan belum membahas respons militer di bawah mekanisme perjanjian tersebut.

Karena itu, perkembangan saat ini lebih menunjukkan kesiapan politik dan pertahanan daripada keputusan bersama untuk menggelar operasi militer. Turkiye juga masih mempertimbangkan kebutuhan yang mungkin diajukan Arab Saudi sebelum menentukan bentuk dukungan.

Turkiye dukung Arab Saudi

Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif berfoto bersama setelah menandatangani perjanjian pertahanan trilateral di Mekkah, Arab Saudi.

Serangan Houthi Tingkatkan Tekanan Keamanan

Situasi keamanan Arab Saudi menjadi semakin kompleks setelah Houthi meningkatkan serangan menggunakan rudal dan pesawat nirawak. Pada 19 September, Arab Saudi mengonfirmasi upaya serangan rudal balistik Houthi menuju Riyadh. Pasukan Saudi mencegat rudal tersebut, sementara laporan awal tidak mencatat korban maupun kerusakan akibat serangan itu.

Eskalasi di Yaman turut memberikan tekanan terhadap kawasan. Perkembangan konflik tidak hanya berkaitan dengan keamanan perbatasan Arab Saudi, tetapi juga menyentuh jalur pelayaran strategis di sekitar Laut Merah dan Bab el-Mandeb.

Di sisi lain, Turkiye berusaha menjaga agar kerja sama pertahanan trilateral tidak berubah menjadi instrumen untuk memperluas perang regional. Pemerintah Turkiye sebelumnya menegaskan bahwa perjanjian tersebut bersifat defensif dan tidak menetapkan Iran ataupun negara lain sebagai musuh bersama.

Turkiye Tetap Membuka Jalur Diplomasi

Perkembangan terbaru menempatkan Pakta Mekkah dalam ujian awal sejak tiga negara membentuknya pada Agustus 2026. Serangan terhadap Arab Saudi membuat prinsip pertahanan bersama yang mereka sepakati mulai menghadapi situasi keamanan nyata.

Namun, pelaksanaan bantuan tetap bergantung pada kebutuhan serta permintaan dari negara yang menghadapi serangan. Fidan sebelumnya menjelaskan bahwa negara yang membutuhkan bantuan perlu mengajukan permintaan dan menentukan dukungan seperti apa yang diperlukan.

Untuk saat ini, Ankara menunjukkan dua pendekatan secara bersamaan. Turkiye membuka pintu untuk membantu memenuhi kebutuhan pertahanan Arab Saudi, tetapi tetap berusaha mencegah Riyadh terseret lebih jauh ke dalam konflik regional.

Dengan demikian, Turkiye dukung Arab Saudi melalui komitmen solidaritas dan kesiapan memenuhi kebutuhan pertahanan yang di perlukan. Sementara pembahasan mengenai dukungan militer terus berjalan, Ankara tetap menempatkan diplomasi dan upaya meredakan konflik sebagai bagian penting dari responsnya terhadap ketegangan yang berkembang di kawasan.