Produksi Padi – Di Desa Kertosari, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember mengalami penurunan tajam dalam dua tahun terakhir. Petani setempat mencatat penurunan hasil panen hingga 80 persen di bandingkan kondisi normal. Situasi ini memunculkan kekhawatiran serius karena sawah yang dulu produktif kini kehilangan daya hasilnya secara signifikan.
Hasil Panen Turun Tajam di Area Dekat TPA
Koordinator petani Desa Kertosari, Didik Rudi Hartono, menjelaskan kondisi lapangan yang semakin memburuk. Ia menyebut lahan yang sebelumnya menghasilkan sekitar 6 ton padi per hektare kini hanya mampu memberikan 1 hingga 2 ton saja. Beberapa petak sawah bahkan sudah tidak bisa lagi di tanami karena kondisi tanah yang rusak.
Petani mencatat sekitar 2 hingga 3 hektare lahan yang berada dekat Tempat Pembuangan Akhir (TPA) mengalami kegagalan tanam total. Jika di gabungkan, total lahan terdampak mencapai sekitar 8 hektare dengan tingkat kerusakan yang berbeda-beda. Kondisi ini menekan produktivitas pertanian secara keseluruhan di wilayah tersebut.
Dalam kondisi normal, lahan pertanian di Desa Kertosari mampu menghasilkan sekitar 30 ton gabah setiap musim tanam. Namun saat ini, hasil panen hanya berkisar 5 hingga 10 ton. Penurunan ini membuat petani kehilangan potensi produksi hingga puluhan ton setiap tahun.
Petani Hadapi Tekanan Ekonomi yang Semakin Berat
Penurunan hasil panen langsung memukul pendapatan petani. Banyak petani mulai mengurangi intensitas tanam karena biaya produksi tidak lagi sebanding dengan hasil yang mereka dapatkan.
Didik Rudi Hartono menyampaikan bahwa sebagian petani mulai kehilangan semangat bertani karena hasil terus merosot. Mereka tetap mengeluarkan biaya untuk pupuk, tenaga kerja, dan pengolahan lahan, tetapi hasil panen tidak mampu menutup pengeluaran tersebut.
Situasi ini mendorong perubahan pola pikir di kalangan petani yang kini mempertimbangkan alternatif tanaman atau bahkan meninggalkan lahan yang sudah tidak produktif.
Kualitas Gabah Ikut Menurun
Selain jumlah panen yang berkurang, kualitas gabah juga mengalami penurunan signifikan. Petani menemukan banyak bulir padi yang kosong, berwarna gelap, dan tidak layak jual sebagai beras berkualitas.
Kondisi tersebut langsung memengaruhi harga jual di pasar. Gabah yang sebelumnya mengikuti Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sekitar Rp6.500 per kilogram kini hanya mencapai sekitar Rp6.300 untuk kualitas sedang. Gabah dengan kualitas rendah bahkan turun hingga di bawah Rp5.000 per kilogram.
Penurunan harga ini semakin memperburuk kondisi ekonomi petani yang sudah tertekan oleh hasil panen yang rendah.

Tanaman padi Bukhori, petani Desa Kertosari Kecamatan Pakusari Kabupaten Jember yang mati diduga tercemar TPA Pakusari. Tampak air berwarna hitam yang berasal dari irigasi yang diduga telah tercemar.
Jember sebagai Lumbung Pangan Menghadapi Tantangan Baru
Wilayah Jember selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan utama di Jawa Timur. Kontribusi daerah ini mencapai sekitar 10 persen kebutuhan beras provinsi. Namun, kondisi di Kecamatan Pakusari menunjukkan tren penurunan yang mengkhawatirkan.
Data pertanian mencatat penurunan luas lahan produktif hingga ratusan hektare serta penurunan hasil panen ratusan ton pada tahun 2025. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas produksi pangan daerah jika tidak ada langkah perbaikan yang cepat.
Analisis Penyebab dari Dinas Pertanian
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Jember, Luhur Prayogo, menyampaikan bahwa banyak faktor dapat memengaruhi penurunan hasil panen.
Ia menyebut organisme pengganggu tanaman, perubahan iklim, dan tingkat keasaman tanah sebagai faktor utama yang sering memengaruhi produksi padi. Ia juga mengakui bahwa potensi dampak lingkungan dari sekitar TPA perlu mendapat perhatian serius.
Namun ia menegaskan bahwa tim teknis perlu melakukan survei dan pengujian lapangan sebelum menyimpulkan penyebab utama penurunan produksi di Desa Kertosari.
Petani Diminta Ubah Pola Tanam Sementara
Dinas pertanian mendorong petani untuk mengubah pola tanam sementara waktu. Petani diminta mengurangi penanaman padi dan mulai beralih ke tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi tanah kering seperti jagung dan kedelai.
Luhur Prayogo menjelaskan bahwa tanah perlu melalui proses perbaikan terlebih dahulu. Petani perlu mengeringkan lahan dan menambahkan dolomit untuk menstabilkan pH tanah. Ia memperkirakan pemulihan lahan membutuhkan waktu minimal dua musim tanam sebelum kembali layak untuk padi.
Pentingnya Penanganan Sumber Masalah
Dinas pertanian menekankan bahwa perbaikan lahan tidak akan memberikan hasil maksimal jika sumber pencemaran tidak di tangani. Oleh karena itu, pemerintah daerah perlu bergerak bersama lintas sektor untuk mengatasi akar masalah.
Tim DTPHP Jember juga berencana melakukan pengecekan ulang di lapangan guna mendapatkan data yang lebih akurat. Hasil kajian tersebut akan menjadi dasar untuk menentukan langkah penanganan berikutnya.
Kesimpulan
Penurunan produksi padi di Desa Kertosari, Jember menunjukkan tantangan besar bagi sektor pertanian lokal. Kondisi ini berdampak langsung pada produktivitas, kualitas hasil panen, dan pendapatan petani.
Peran Didik Rudi Hartono sebagai perwakilan petani serta analisis dari Luhur Prayogo menjadi penting dalam mencari solusi yang tepat. Tanpa langkah terpadu, produktivitas pertanian di wilayah ini berisiko terus menurun dan mengancam ketahanan pangan daerah.