Titik Panas Di Lampung mencapai 41 titik yang tersebar di sembilan kabupaten berdasarkan pemantauan Polda Lampung pada Jumat (28/8/2026). Setelah memperoleh data tersebut, petugas langsung memeriksa sejumlah koordinat untuk memastikan apakah satelit mendeteksi kebakaran yang masih aktif, bekas area terbakar, atau sumber panas lain yang tidak berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Polda Lampung menempatkan verifikasi lapangan sebagai bagian penting dalam penanganan setiap hotspot. Pasalnya, data satelit tidak selalu menggambarkan keberadaan api di lokasi. Faktor geografis, pantulan cahaya, hingga aktivitas vulkanik juga dapat memunculkan indikasi panas.
Kabid Humas Polda Lampung Kombes Pol Yuni Isawandari Yuyun mengatakan bahwa petugas memeriksa setiap titik untuk mengetahui kondisi sebenarnya. Pemeriksaan tersebut sekaligus membantu tim menentukan langkah penanganan yang sesuai dengan situasi di lapangan.
“Setiap titik panas yang terpantau kami lakukan pengecekan di lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya, apakah masih terjadi kebakaran atau merupakan bekas kebakaran,” kata Yuni, Jumat (28/8/2026).
Lampung Timur Catat 21 Titik Panas
Sebaran Titik Panas di Lampung menunjukkan Lampung Timur sebagai wilayah dengan jumlah terbanyak. Polda Lampung mencatat 21 titik di kabupaten tersebut.
Sementara itu, Way Kanan memiliki enam titik dan Lampung Selatan mencatat empat titik. Tanggamus, Lampung Utara, Tulang Bawang, serta Tulang Bawang Barat masing-masing memiliki dua titik. Adapun Pesisir Barat dan Mesuji masing-masing mencatat satu titik.
Dari keseluruhan 41 titik yang muncul dalam pemantauan, dua titik masuk kategori merah. Sebanyak 39 titik lainnya masuk kategori kuning.
Meski demikian, petugas tidak langsung menyimpulkan seluruh hotspot tersebut sebagai kebakaran aktif. Tim tetap mendatangi lokasi untuk memperoleh gambaran akurat mengenai kondisi setiap titik.
Sebanyak 21 Hotspot Terkonsentrasi di Way Kambas
Perhatian utama petugas tertuju pada Kabupaten Lampung Timur. Seluruh 21 titik panas di wilayah tersebut terkonsentrasi di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), khususnya Grid 21 yang berada di perbatasan Resort Susukan Baru dan Toto Projo.
Pengecekan lapangan menunjukkan kondisi berbeda dibandingkan sejumlah daerah lain. Petugas masih menemukan api di kawasan TNWK sehingga tim gabungan terus melakukan pemadaman.
Kebakaran tersebut melanda vegetasi berupa ilalang dan semak belukar. Untuk mengendalikan api, petugas mengerahkan personel dari beberapa unsur.
Sekitar 15 personel Polres Lampung Timur, 10 personel Brimob, 20 personel TNI, serta 15 personel Polisi Kehutanan (Polhut) bergabung dalam operasi penanganan kebakaran tersebut.
Selain mengandalkan pemadaman melalui jalur darat, tim juga mengoperasikan satu helikopter water bombing. Dukungan udara tersebut membantu petugas menjangkau titik api yang sulit mereka capai melalui jalur darat.
“Untuk titik yang masih terdapat api, personel gabungan terus melakukan upaya pemadaman. Penanganan juga didukung dengan helikopter water bombing untuk membantu pemadaman dari udara,” ujar Yuni.

Tim gabungan darat & udara berjuang padamkan kebakaran di kawasan TNWK, Jum’at (28/8/2926).
Petugas Berhasil Mengendalikan Api di Mesuji
Pengecekan Titik Panas di Lampung juga membawa petugas ke Kabupaten Mesuji. Tim menemukan satu hotspot di lahan tidur milik Pondok Pesantren Ulul Absor yang berada di Desa Sriwijaya, Kecamatan Tanjung Raya.
Dua personel Polri bersama dua warga langsung menangani kebakaran tersebut. Mereka menggunakan tiga alat semprot air dan dua ember untuk mengendalikan api hingga akhirnya berhasil memadamkannya.
Petugas juga menemukan kebakaran lahan di Pekon Pagar Bukit, Kecamatan Bengkunat, Kabupaten Pesisir Barat. Api melanda lahan dengan ukuran sekitar 20 x 30 meter.
Empat personel Polri, dua personel Polhut, dan dua warga melakukan pemadaman secara bersama-sama. Tim berhasil menguasai api sehingga kebakaran tidak berkembang lebih luas.
Sementara itu, pemeriksaan pada sejumlah koordinat di Way Kanan, Lampung Utara, dan Tanggamus memberikan hasil berbeda. Petugas menemukan bahwa beberapa titik tersebut hanya menunjukkan bekas kebakaran.
Yuni menegaskan bahwa kepolisian terus bekerja sama dengan berbagai unsur dan masyarakat untuk memeriksa hotspot maupun melakukan pemadaman ketika menemukan api.
“Kami berkoordinasi dengan unsur terkait dan masyarakat dalam melakukan pengecekan maupun pemadaman di lokasi yang ditemukan adanya api,” kata Yuni.
Empat Titik Panas Lampung Selatan Bukan Kebakaran
Verifikasi lapangan memperlihatkan bahwa tidak semua Titik Panas di Lampung berkaitan dengan karhutla. Petugas membuktikan kondisi tersebut ketika memeriksa empat titik yang muncul di Lampung Selatan.
Setelah mendatangi lokasi, tim tidak menemukan kebakaran pada keempat titik tersebut. Salah satu indikasi panas bahkan muncul di sekitar perairan Selat Sunda.
Petugas kemudian mencocokkan koordinat dengan karakter geografis kawasan. Hasil pemeriksaan mengarah pada dugaan bahwa pantulan sinar matahari atau aktivitas vulkanik Anak Krakatau memunculkan indikasi panas tersebut.
Temuan serupa muncul ketika petugas memeriksa satu titik merah di Way Kanan. Tim memastikan titik itu bukan kebakaran aktif. Pantulan cahaya dari lokasi bekas karhutla diduga memicu munculnya indikasi tersebut dalam pemantauan.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pemeriksaan langsung agar petugas tidak menyamakan seluruh hotspot dengan kejadian karhutla.
“Hasil pengecekan di lapangan menunjukkan ada titik yang merupakan bekas kebakaran maupun indikasi yang bukan berasal dari Karhutla. Karena itu, verifikasi menjadi penting agar penanganan sesuai dengan kondisi sebenarnya,” ujar Yuni.
Polda Lampung Terus Pantau Potensi Kebakaran
Polda Lampung bersama instansi terkait masih mengawasi perkembangan titik panas di berbagai wilayah. Langkah tersebut bertujuan mengantisipasi kemunculan api kembali sekaligus mencegah kebakaran menyebar ke area yang lebih luas.
Petugas juga terus melakukan verifikasi lapangan terhadap data yang muncul melalui pemantauan satelit. Cara tersebut memungkinkan tim membedakan kebakaran aktif, bekas kebakaran, dan indikasi panas akibat faktor lainnya.
Saat ini, kawasan Taman Nasional Way Kambas menjadi salah satu lokasi yang membutuhkan perhatian besar. Konsentrasi 21 hotspot serta keberadaan api di kawasan tersebut membuat tim gabungan terus menjalankan proses pemadaman melalui darat dan udara.
Koordinasi antara Polri, TNI, Polhut, instansi terkait, serta masyarakat turut memperkuat upaya penanganan. Melalui pemantauan berkelanjutan, petugas berusaha mengendalikan Titik Panas di Lampung sekaligus mengurangi risiko kebakaran yang dapat meluas ke kawasan lainnya.