Gunung Slamet – Proses pencarian pendaki muda di Gunung Slamet akhirnya mencapai titik akhir. Setelah menghilang selama 19 hari, Syafiq Ridhan Ali Razan, pendaki berusia 18 tahun, di temukan dalam kondisi meninggal dunia. Tim pencari menemukan jasad Syafiq di lereng puncak sisi selatan Gunung Slamet pada Rabu, 14 Januari 2026.

Kabar tersebut langsung di konfirmasi oleh petugas ranger setempat. Heru, salah satu ranger Gunung Slamet, menyampaikan bahwa tim masih melanjutkan proses evakuasi dari lokasi penemuan. Informasi ini kemudian menyebar luas dan mendapat perhatian besar dari komunitas pendaki di berbagai daerah.

Lokasi Penemuan di Jalur Selatan Gunung Slamet

Tak lama setelah kabar beredar, sejumlah komunitas pendaki turut menyampaikan konfirmasi. Salah satunya datang dari komunitas Mountnesia. Melalui pernyataan resmi, mereka menyebutkan bahwa tim menemukan Syafiq di area antara jalur Gunung Malang dan Baturraden.

Lokasi tersebut berada di sisi selatan Gunung Slamet yang di kenal memiliki medan berat dan cuaca ekstrem. Oleh karena itu, proses pencarian dan evakuasi menghadapi tantangan besar sejak hari pertama. Meski begitu, tim tetap menjaga koordinasi dan fokus pada keselamatan seluruh personel.

Gunung Selamet

Proses pencarian Syafiq Ali, pendaki yang hilang lebih dari 16 hari di Gunung Slamet. (Liputan6.com/ Dok Cahpemalang244)

Kronologi Hilangnya Syafiq Saat Pendakian

Sebelumnya, Syafiq Ridhan Ali Razan dilaporkan hilang sejak 27 Desember 2025. Ia melakukan pendakian bersama rekannya, Himawan Choidar Bahran. Keduanya memulai perjalanan melalui jalur Dipajaya, Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah.

Namun, dalam perjalanan menuju puncak, kondisi fisik Syafiq mengalami penurunan. Menurut keterangan Himawan, Syafiq mengalami kram yang cukup parah. Akibat kondisi tersebut, Syafiq tidak mampu melanjutkan perjalanan seperti rencana awal. Setelah itu, keduanya terpisah dan kehilangan kontak.

Kesaksian Rekan Pendakian Perkuat Dugaan Awal

Keterangan dari Himawan menjadi dasar utama tim pencari dalam menyusun strategi. Staf Basarnas Semarang, Handika Hengki, menjelaskan bahwa kondisi kram membuat Syafiq tertinggal dan tersesat.

Sejak saat itu, tim SAR bersama relawan mulai melakukan pencarian intensif. Mereka menyisir berbagai jalur dan titik rawan di sekitar Gunung Slamet. Namun, medan terjal dan kondisi cuaca sering menghambat pergerakan tim di lapangan.

Strategi Pencarian Melibatkan Puluhan Personel

Pada tahap awal, sekitar 120 orang menyatakan kesiapan untuk terlibat dalam pencarian. Namun, setelah mempertimbangkan faktor keselamatan dan efektivitas, tim memutuskan untuk mengerahkan 70 personel. Tim tersebut terbagi menjadi empat kelompok dengan area pencarian yang berbeda.

Setiap tim membawa perlengkapan lengkap dan menjalankan tugas sesuai prosedur keselamatan. Selain itu, tim juga berkoordinasi secara berkala untuk menyesuaikan strategi berdasarkan temuan terbaru di lapangan.

Rekan Pendakian Lebih Dulu Ditemukan Selamat

Sementara pencarian terhadap Syafiq terus berjalan, tim SAR lebih dulu menemukan Himawan pada Selasa, 30 Desember 2025. Tim menemukan Himawan dalam kondisi selamat meski mengalami kelelahan berat. Penemuan tersebut sempat memunculkan harapan besar bagi keluarga dan rekan pendaki.

Namun, seiring berjalannya waktu, medan yang sulit dan minimnya jejak membuat proses pencarian Syafiq semakin kompleks. Meski demikian, tim tidak menghentikan upaya hingga akhirnya menemukan jasad korban.

Evaluasi Keselamatan Pendakian Jadi Perhatian Bersama

Peristiwa ini kembali mengingatkan pentingnya kesiapan fisik, mental, dan logistik sebelum melakukan pendakian gunung. Jalur pendakian Gunung Slamet di kenal memiliki karakter ekstrem yang membutuhkan pengalaman dan perencanaan matang.

Melalui kejadian ini, para pendaki di harapkan lebih di siplin terhadap prosedur keselamatan. Selain itu, komunikasi yang baik antaranggota tim pendakian juga memegang peranan penting untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.