Aliran Sungai Progo – Tidak hanya menghidupi sektor pertanian di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain itu, sungai ini juga menopang kehidupan kuliner masyarakat di sekitarnya. Berbagai jenis ikan endemik berkembang di aliran Sungai Progo, salah satunya ikan wader yang memiliki nilai budaya sekaligus nilai ekonomi tinggi. Masyarakat sekitar memanfaatkan potensi tersebut untuk menciptakan hidangan khas yang bertahan lintas generasi.
Salah satu warung yang konsisten menjaga tradisi tersebut yaitu Warung Mbok Sriwanto. Warung ini berlokasi di jalur strategis Magelang–Kalibawang, Kelurahan Banjarharjo, Kabupaten Kulon Progo. Sejak berdiri pada era 1980-an, warung ini terus menyajikan kuliner berbasis ikan wader dengan cara pengolahan tradisional. Hingga kini, aroma mangut wader dari tungku kayu masih menjadi penanda kelezatan yang sulit dilupakan pengunjung.
Mangut Wader Duri Lunak Menjadi Menu Ikonik
Keistimewaan utama Warung Mbok Sriwanto terletak pada menu mangut wader duri lunak. Menu ini tidak sekadar menyajikan rasa, tetapi juga menghadirkan filosofi kesabaran dalam proses memasak. Pengelola warung tetap mempertahankan teknik pengolahan tradisional untuk menjaga cita rasa asli.
Proses memasak dimulai dengan menggoreng ikan wader hingga kering. Setelah itu, pengelola merebus ikan bersama bumbu rempah selama kurang lebih empat jam. Tahapan panjang ini bertujuan agar bumbu meresap hingga ke tulang ikan. Melalui proses tersebut, duri ikan menjadi lunak dan mudah dikonsumsi tanpa mengurangi kelezatan dagingnya.

Menikmati mangut wader duri lunak legendaris di warung Mbok Sriwanto, Kulonprogo. (Beritasatu.com/Olena Wibisana)
Resep Keluarga yang Terjaga Puluhan Tahun
Sudartinah, generasi kedua yang kini mengelola warung, menjelaskan bahwa ia tetap mempertahankan resep asli peninggalan mertuanya. Ia tidak melakukan perubahan komposisi bumbu demi menjaga kepercayaan pelanggan lama. Menurutnya, kesederhanaan bumbu justru menjadi kekuatan utama mangut wader.
Ia menggunakan bawang merah, bawang putih, jahe, dan kunyit sebagai dasar rasa. Selain itu, cabai, daun salam, lengkuas, serai, dan daun jeruk melengkapi aroma serta sensasi pedas gurih. Kombinasi rempah tersebut menciptakan rasa khas yang konsisten dari masa ke masa. Karena itu, banyak pelanggan menilai mangut wader di warung ini memiliki rasa yang lebih dalam dan otentik.
Lokasi Strategis Menarik Wisatawan
Letak warung yang berada di jalur wisata menuju Candi Borobudur memberi keuntungan tersendiri. Setiap hari, pelancong dari berbagai daerah singgah untuk mencicipi mangut wader. Dengan demikian, pelanggan warung tidak hanya berasal dari warga lokal, tetapi juga wisatawan luar kota.
Tekstur ikan yang lembut tanpa gangguan duri menjadi daya tarik utama. Banyak pengunjung merasa nyaman menyantap hidangan ini, termasuk mereka yang kurang menyukai ikan berduri. Oleh sebab itu, mangut wader duri lunak menjadi pilihan kuliner aman bagi berbagai kalangan usia.
Testimoni Pelanggan Menguatkan Reputasi Warung
Salah satu pelanggan, Widayana Annisa, mengaku puas setelah menikmati mangut wader. Ia menilai pengolahan ikan terasa berbeda dibandingkan olahan wader di tempat lain. Menurutnya, bumbu meresap sempurna dan rasa pedas memberikan sensasi yang nikmat.
Selain rasa, Widayana juga menyoroti harga yang terjangkau. Ia menilai kisaran harga membuat warung ini ramah bagi semua kalangan. Pendapat ini mencerminkan persepsi umum pelanggan yang menilai Warung Mbok Sriwanto menawarkan keseimbangan antara kualitas rasa dan harga.
Kapasitas Produksi dan Menu Pendamping
Dalam satu hari, Warung Mbok Sriwanto mampu mengolah sekitar 15 kilogram ikan wader. Jumlah ini meningkat hingga 20 kilogram saat akhir pekan atau musim liburan. Peningkatan produksi tersebut menunjukkan tingginya permintaan terhadap menu mangut wader.
Selain menu utama, pengunjung juga dapat menikmati hidangan pendamping seperti pecel sayur dan berbagai olahan sayur khas pedesaan. Menu pendamping ini melengkapi pengalaman makan dan menghadirkan suasana rumahan yang kuat. Harga per porsi berkisar antara Rp20.000 hingga Rp30.000, tergantung ukuran ikan yang dipilih.
Kuliner Tradisional Tetap Relevan di Era Modern
Keberhasilan Sudartinah menjaga resep dan metode pengolahan membuktikan bahwa kuliner tradisional tetap relevan di tengah maraknya tren makanan modern. Konsistensi rasa, kesetiaan pada resep lama, serta pendekatan sederhana menjadi kunci keberlanjutan usaha ini.
Melalui Warung Mbok Sriwanto, mangut wader tidak hanya berfungsi sebagai hidangan, tetapi juga sebagai identitas budaya Sungai Progo. Dengan demikian, kuliner tradisional mampu bertahan, berkembang, dan terus menjadi bagian penting dari perjalanan wisata dan budaya Kulon Progo.