Patricia Schuldzt – Dan Darma Mangkuluhur resmi melangkah ke jenjang pernikahan pada Minggu, 11 Januari 2026. Setelah menjalin hubungan selama lebih dari lima tahun, keduanya akhirnya menyatukan komitmen dalam sebuah prosesi yang sarat nilai personal. Sejak awal, pasangan ini tidak sekadar merayakan cinta, tetapi juga merancang pernikahan sebagai refleksi perjalanan hidup bersama.
Oleh karena itu, setiap detail pernikahan mendapat perhatian khusus. Mulai dari perhiasan hingga busana, semuanya menggambarkan karakter, nilai, dan visi masa depan Patricia dan Darma sebagai pasangan suami istri.
Cincin Kawin Infinity sebagai Simbol Cinta Abadi
Sebagai langkah awal, Patricia dan Darma memilih cincin kawin dengan desain infinity. Desain ini menampilkan bentuk menyerupai angka delapan yang melambangkan cinta tanpa akhir. Selain itu, simbol infinity juga merepresentasikan penyatuan dua individu dalam satu ikatan yang berkelanjutan.
Cincin Patricia menghadirkan detail berlian kecil yang tersusun rapi di setengah bagian band. Susunan ini menciptakan kilau yang konsisten dari berbagai sudut pandang. Lebih lanjut, sebanyak 12 berlian bulat dengan kualitas tinggi memperkuat kesan elegan sekaligus bermakna. Sementara itu, cincin Darma menampilkan desain yang lebih sederhana melalui emas 18 karat dengan bobot seimbang.
Tak hanya itu, kedua cincin memuat inisial nama pasangan serta tanggal pernikahan. Dengan begitu, cincin kawin tidak hanya berfungsi sebagai perhiasan, tetapi juga sebagai simbol personal yang menyimpan cerita perjalanan cinta mereka.

Cincin kawin Patricia Schuldtz dan Darma Mangkuluhur. (dok. Adelle Jewellery)
Perhiasan Akad Nikah Perkuat Kesan Anggun dan Sakral
Selain cincin kawin, Patricia juga melengkapi tampilan akad nikah dengan rangkaian perhiasan berlian. Untuk itu, ia memilih kalung berlian sebagai fokus utama penampilan. Kalung ini memantulkan cahaya secara optimal dan menciptakan kesan mewah tanpa menghilangkan nuansa sakral.
Selanjutnya, Patricia memadukan kalung tersebut dengan anting berlian berpotongan radiant. Potongan ini menghasilkan kilau lembut namun konsisten. Kemudian, detail halo micro diamond yang mengelilingi berlian utama memperkuat kesan elegan dan berkelas.
Agar tampilan semakin selaras, Patricia menambahkan kombinasi cincin tambahan dengan bentuk oval dan multibentuk. Melalui perpaduan ini, ia menghadirkan harmoni visual yang merefleksikan kesatuan dua karakter dalam satu komitmen hidup.
Busana Resepsi Hadirkan Perpaduan Tradisi dan Modernitas
Beranjak ke busana resepsi, Patricia mengusung konsep yang berbeda dari pengantin pada umumnya. Alih-alih memilih busana penuh ornamen, ia justru mengutamakan kesederhanaan, keanggunan, dan sentuhan modern. Meski demikian, ia tetap menjaga nuansa adat Solo agar nilai tradisi tetap terasa kuat.
Untuk mewujudkan konsep tersebut, Patricia terlibat langsung dalam proses perancangan. Ia berdiskusi intensif dengan para desainer dan pakar budaya Jawa. Dengan cara ini, setiap elemen busana mencerminkan keseimbangan antara estetika modern dan pakem tradisi.
Detail Material dan Aksesori yang Menyempurnakan Tampilan
Selanjutnya, proses pengerjaan busana mengombinasikan berbagai material pilihan. Tim desainer memadukan French lace, beludru, dan jacquard sebagai elemen utama. Setelah itu, mereka menambahkan batik tulis sebagai bawahan untuk menegaskan akar budaya Jawa.
Proses pengerjaan berlangsung selama kurang lebih tiga bulan. Selain karena tingkat detail yang tinggi, beberapa material juga didatangkan langsung dari Italia. Kemudian, tim desainer melengkapi busana dengan aksesori kuningan khusus, mulai dari pending, hiasan kepala, hingga aksesori pinggang.
Dengan panjang ekor busana mencapai 1,5 meter, Patricia tampil anggun dan berwibawa. Pada akhirnya, keseluruhan tampilan tersebut berhasil menghadirkan sosok pengantin yang memadukan tradisi, modernitas, dan keanggunan dalam satu harmoni yang memukau.