Chelsea – Resmi memasuki fase baru setelah menunjuk Liam Rosenior sebagai pelatih kepala. Manajemen klub menaruh harapan besar pada pendekatan progresif yang menekankan penguasaan bola sejak lini belakang. Sejak awal, Rosenior membawa visi permainan modern yang mengandalkan build-up pendek, sirkulasi cepat, serta keberanian menghadapi tekanan lawan.
Harapan tersebut sempat muncul secara nyata ketika Chelsea mencatat kemenangan telak 5-1 atas Charlton Athletic di ajang Piala FA. Pada laga debut itu, Chelsea menunjukkan kontrol permainan yang dominan. Aliran bola dari belakang berjalan lancar, transisi menyerang tampak rapi, dan intensitas permainan terlihat konsisten sepanjang laga. Oleh karena itu, publik Stamford Bridge mulai percaya pada arah baru yang Rosenior bangun.
Namun demikian, tantangan sesungguhnya muncul ketika Chelsea menghadapi lawan dengan kualitas dan organisasi pressing yang jauh lebih matang.
Ujian Berat Kontra Arsenal dan Realitas Filosofi Berisiko
Pada leg pertama semifinal Carabao Cup, Chelsea menghadapi Arsenal dalam laga yang langsung menguji fondasi taktik Rosenior. Sejak menit awal, Arsenal menekan tinggi dan memaksa kesalahan di area sendiri. Chelsea memang mengalami banyak kendala akibat cedera, sakit, dan skorsing pemain inti. Meskipun begitu, pendekatan bermain dari belakang tetap berjalan tanpa kompromi.
Arsenal mendominasi hampir seluruh aspek permainan. Mereka mencatat 3,2 expected goals, sementara Chelsea hanya menghasilkan 0,7. Statistik tersebut menegaskan jurang kualitas sekaligus risiko besar dari filosofi build-up ekstrem. Meski tertinggal tiga gol, dua gol balasan dari Alejandro Garnacho tetap menjaga peluang Chelsea menjelang leg kedua.
Akan tetapi, skor akhir 2-3 tidak sepenuhnya mencerminkan tekanan yang Chelsea rasakan sepanjang laga.

Aksi Robert Sanchez dalam laga Chelsea vs Arsenal di semifinal Carabao Cup 2025/2026, Kamis (15/1/2026). (AP Photo/Alastair Grant).
Kesalahan Awal dan Sorotan untuk Robert Sanchez
Masalah Chelsea muncul sejak fase awal pertandingan. Ben White membuka keunggulan Arsenal melalui sundulan setelah Robert Sanchez gagal membaca arah bola hasil sepak pojok Declan Rice. Momen tersebut langsung mengganggu stabilitas permainan Chelsea.
Tidak lama berselang, kesalahan serupa kembali terjadi. Sanchez gagal mengamankan umpan silang sederhana, sehingga Viktor Gyokeres dengan mudah mencetak gol kedua tanpa penjagaan berarti. Situasi ini semakin memperjelas kerentanan Chelsea saat membangun serangan dari area paling belakang.
Pada gol ketiga yang dicetak Martin Zubimendi, Sanchez memang tidak memiliki banyak opsi penyelamatan. Namun, secara keseluruhan, performanya menimbulkan kekhawatiran serius. Ia terlihat ragu ketika memainkan bola pendek di bawah tekanan agresif Arsenal. Setiap sentuhan justru meningkatkan kecemasan rekan setim dan suporter.
Perbandingan Pendekatan Lama dan Baru
Sebelumnya, di bawah Enzo Maresca, Chelsea memilih pendekatan yang lebih pragmatis. Distribusi bola dari belakang berjalan lebih sederhana. Pendekatan tersebut mampu mengurangi risiko fatal serta menjaga kepercayaan diri lini pertahanan. Selain itu, atmosfer Stamford Bridge terasa lebih tenang karena pemain tidak terus-menerus bermain di bawah tekanan tinggi.
Sebaliknya, Rosenior kembali mengaktifkan skema build-up berisiko tinggi saat menghadapi Arsenal. Pendekatan ini menempatkan Chelsea pada situasi yang sangat rentan, terutama melawan salah satu unit pressing terbaik di Eropa. Akibatnya, kesalahan individual muncul berulang kali.
Tanggung Jawab Pelatih dan Arah Solusi
Setelah pertandingan, Rosenior menunjukkan sikap kepemimpinan dengan mengambil tanggung jawab penuh. Ia secara terbuka mengakui bahwa instruksi taktiknya menempatkan Sanchez dalam situasi sulit. Rosenior juga menegaskan komitmennya untuk melindungi pemain dari kritik berlebihan.
Lebih jauh lagi, Rosenior tetap percaya pada proses jangka panjang. Ia melihat beberapa momen positif dalam permainan Chelsea, terutama saat tim mampu keluar dari tekanan dan membangun serangan dengan rapi. Namun, optimisme tersebut tetap membutuhkan solusi realistis.
Jika Rosenior mempertahankan filosofi ini, Chelsea harus menyesuaikan komposisi pemain. Klub membutuhkan penjaga gawang yang nyaman menguasai bola, tenang di bawah tekanan, serta memiliki kemampuan distribusi elite. Tanpa itu, proyek taktik Rosenior berisiko terhambat hingga akhir musim.
Kesimpulan: Antara Idealisme dan Kebutuhan Praktis
Chelsea kini berada di persimpangan penting. Di satu sisi, filosofi progresif Rosenior menawarkan identitas permainan modern. Di sisi lain, realitas kompetisi tingkat atas menuntut keseimbangan antara keberanian dan keamanan. Oleh karena itu, keberhasilan era Rosenior sangat bergantung pada adaptasi taktik serta keputusan rekrutmen yang tepat.
Jika Chelsea mampu menjembatani idealisme dengan kebutuhan praktis, proyek ini berpotensi membawa stabilitas jangka panjang. Namun, tanpa penyesuaian yang cepat, risiko kesalahan berulang akan terus membayangi perjalanan musim ini.