Teuku Markam – Menjadi salah satu tokoh penting dalam pembangunan Monumen Nasional (Monas). Monas, yang berdiri megah di Jakarta Pusat, mulai di bangun pada tahun 1961 dan sejak itu menjadi ikon kebanggaan kota Jakarta serta simbol kemerdekaan Indonesia.
Pada masa pembangunan Monas, pemerintah menghadapi tantangan finansial yang cukup besar. Total biaya pembangunan Monas mencapai Rp 358.328.107,57, jumlah yang tergolong tinggi pada era itu. Untuk menutup kebutuhan dana, Presiden Soekarno mencari dukungan dari berbagai dermawan di seluruh Indonesia. Salah satu kontribusi terbesar datang dari Teuku Markam, pengusaha asal Aceh, yang menyumbangkan 28 kilogram emas murni untuk melapisi nyala obor di puncak Monas. Obor tersebut memiliki berat 14,5 ton dari perunggu dan membutuhkan total emas murni 35 kilogram untuk penyelesaian.
Kontribusi Markam menjadi sangat vital, mengingat sumbangan lainnya berasal dari berbagai pihak. Misalnya, pengusaha bioskop di Parepare, Sulawesi Selatan, menyumbang Rp 7.700,60, bioskop di Watampone menyumbang Rp 1.364,20, dan bioskop di Banjarmasin, Kalimantan Selatan menyumbang Rp 884.528,85. Secara keseluruhan, dukungan ini mencerminkan semangat gotong royong untuk menyelesaikan salah satu proyek monumental Indonesia.
Karier dan Kehidupan Awal Teuku Markam
Sebelum menjadi pengusaha sukses, Teuku Markam pernah berdinas di militer. Namun, ia memutuskan meninggalkan karier militer karena merasa tidak cocok dan lebih tertarik pada dunia perdagangan. Markam kemudian mendirikan perusahaan bernama PT Markam, yang tumbuh seiring awal kelahiran Republik Indonesia.
Kedekatan Markam dengan Presiden Soekarno membuatnya sering terlibat dalam proyek-proyek strategis negara. Selain sumbangan emas untuk Monas, ia juga dipercaya membantu berbagai inisiatif nasional lainnya. Kiprahnya mencerminkan peran penting pengusaha dalam pembangunan negara pada era awal kemerdekaan.

Kisah Teuku Markam pengusaha Aceh penyumbang emas Monas atau Monumen Nasional.
Penahanan dan Pengambilalihan Aset oleh Pemerintah
Nasib Teuku Markam berubah drastis setelah pergantian rezim dari Orde Lama ke Orde Baru. Pada tahun 1966, Markam di tahan tanpa proses pengadilan oleh pemerintah Orde Baru di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto. Ia di pindahkan dari satu penjara ke penjara lain, mulai dari Budi Utomo, lalu ke Guntur, kemudian Salemba, di lanjutkan ke Cipinang, dan terakhir di tempatkan di Nirbaya, tahanan khusus politisi di Pondok Gede, Jakarta Timur.
Selain penahanan, pemerintah juga mengambil alih sebagian besar aset milik Teuku Markam, termasuk kantor dan tanah perusahaan PT Markam. Perusahaan itu kemudian menjadi cikal bakal PT Berdikari (Persero), salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang masih eksis hingga saat ini.
Pada tahun 1972, kondisi kesehatan Teuku Markam memburuk sehingga ia harus di rawat di RSPAD Gatot Soebroto selama kurang lebih dua tahun. Pengambilalihan asetnya oleh pemerintah resmi dilakukan pada 14 Agustus 1966, di bawah keputusan Soeharto sebagai Ketua Presidium Kabinet Ampera I.
Warisan dan Pengaruh Teuku Markam
Kontribusi Teuku Markam dalam pembangunan Monas menjadi warisan penting bagi Indonesia. Sumbangan emasnya membantu menyelesaikan simbol kebanggaan nasional yang terus di kenang hingga kini. Meskipun nasibnya tragis di era Orde Baru, kiprah Markam sebagai pengusaha dermawan dan pendukung proyek strategis negara tetap di ingat.
Kisah Teuku Markam menunjukkan di namika kehidupan seorang tokoh yang berada di persimpangan sejarah. Ia membuktikan bahwa kontribusi individu dapat memberikan dampak besar bagi pembangunan nasional, bahkan di tengah perubahan rezim dan tantangan politik yang ekstrem.