Lebaran Di Indonesia – Selalu identik dengan momen berkumpul dan menikmati hidangan khas bersama keluarga. Setiap rumah menghadirkan ketupat, opor ayam, semur daging, sambal goreng kentang, telur balado, hingga sayur labu di atas satu meja. Kebiasaan ini tidak sekadar soal makanan, melainkan simbol kebersamaan, kehangatan, dan perayaan setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa.
Budaya makan bersama ini memiliki akar sejarah yang menarik. Tradisi menyajikan beragam hidangan dalam satu meja mengingatkan pada konsep rijsttafel, yang di perkenalkan di Jawa pada masa kolonial Belanda. Studi Fadilla Putri Nurlitasari (Universitas Negeri Yogyakarta, 2020) menyebut, rijsttafel mulai populer antara 1900 hingga 1942, terutama di kalangan elit Belanda.
Sejarah dan Filosofi Rijsttafel
Rijsttafel berasal dari istilah Belanda: “rijst” berarti nasi dan “tafel” berarti meja. Konsep ini lahir dari percampuran budaya kuliner Hindia (Indische Keuken), yang menyajikan beragam hidangan dalam porsi kecil. Tujuan awalnya mencerminkan kekayaan rasa sekaligus status sosial.
Hidangan yang biasanya di sajikan antara lain nasi kukus, nasi goreng, nasi gurih, sate, dendeng, empal daging, biefstuk, ayam panggang, dan sup. Penyajian ini menekankan variasi rasa dan visual, sekaligus menciptakan pengalaman kuliner yang memikat.
Meski populer pada masa kolonial, konsep rijsttafel mulai berkurang penggunaannya di rumah makan dan keluarga Indonesia modern. Kini, beberapa inovator kuliner membawa kembali konsep ini dengan makna baru, lebih fokus pada kesederhanaan dan kebersamaan.

Menu ikonik Lebaran Nusantara dalam konsep rijsttafel dengan menyajikan lima hidangan berbeda.
Adaptasi Rijsttafel Modern di Sheraton Bandung
Head Chef Sheraton Bandung Hotel & Towers, Tri Julianto, mengadaptasi konsep rijsttafel agar relevan dengan masyarakat Indonesia saat ini. Selama Lebaran 1447 Hijriah, restoran utama hotel menghadirkan hidangan yang ramah lidah, akrab, dan dapat dinikmati bersama keluarga.
Tri Julianto menyebut, “Terminologi rijsttafel itu seperti makan tengah. Semua hidangan sudah disiapkan, lalu dinikmati bersama di satu meja.” Dengan pendekatan ini, konsep rijsttafel berubah dari simbol kemewahan menjadi medium untuk mempererat kehangatan keluarga.
Setiap paket hidangan bisa dinikmati oleh dua hingga empat orang, lengkap dengan minuman. Dengan demikian, hotel menghadirkan pengalaman makan intim seperti di rumah meski tamu berada dalam suasana staycation.
Ragam Hidangan dan Akulturasi Budaya
Hidangan Lebaran di Sheraton Bandung tetap mempertahankan cita rasa Nusantara. Opor ayam berkuah putih hadir dengan perpaduan teknik Tionghoa peranakan, menggunakan santan lokal tanpa mengubah rasa asli. Semur daging menghadirkan manis gurih yang meresap ke serat daging. Sambal goreng kentang dan telur balado tetap pedas dan akrab di lidah. Aroma rempah seperti bawang merah, bawang putih, lengkuas, jahe, dan kemiri menambah kedalaman rasa setiap hidangan.
Selain itu, hidangan ini menunjukkan sejarah akulturasi kuliner Indonesia. Opor ayam kuah kuning mencerminkan pengaruh India, sedangkan kuah putih terinspirasi masakan Tionghoa. Ketupat dan lauk pendamping lain memperkuat kesan tradisional, sementara penyajian ala rijsttafel modern memberikan fleksibilitas dan kenyamanan bagi keluarga.
Esensi Kebersamaan dan Kearifan Lokal
Tri Julianto menekankan bahwa kunci kesuksesan sajian ini terletak pada keseimbangan bumbu. Setiap rempah memiliki peran dan saling melengkapi. Hilangnya satu bahan dapat mengurangi kenikmatan rasa, sehingga setiap hidangan menghadirkan keautentikan cita rasa rumahan.
Dengan konsep rijsttafel modern, Sheraton Bandung berhasil menghadirkan perpaduan budaya, sejarah, dan tradisi. Hidangan Lebaran tetap otentik, ramah lidah, dan mampu mempererat kehangatan keluarga. Setiap paket tersedia untuk minimal dua orang, tersedia mulai 21 hingga 29 Maret 2026, memastikan pengalaman Lebaran yang menyenangkan dan intim.
Kesimpulan
Konsep rijsttafel modern membawa kembali esensi kebersamaan dan kesederhanaan dalam momen Lebaran. Sheraton Bandung berhasil menggabungkan sejarah, akulturasi kuliner, dan tradisi Nusantara menjadi pengalaman makan yang relevan dengan kebutuhan keluarga modern. Dengan fokus pada rasa autentik, penyajian praktis, dan atmosfer hangat, tradisi makan bersama tetap hidup dan berkembang di tengah dinamika kuliner masa kini.