Dwie Ratna (44) – Peserta tur ziarah Katolik Holyland & Lourdes dari Renata Tours, tidak menyangka perjalanan religi yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi pengalaman penuh kekhawatiran. Bersama 160 anggota rombongan, Dwie terjebak di Yordania sejak Minggu (1/3/2026) dan hingga kini masih menunggu bantuan evakuasi dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Amman. Seharusnya, rombongan mereka pulang pada Rabu (4/3/2026), tetapi penerbangan di batalkan akibat serangan balasan Iran terhadap Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Sabtu (28/2/2026).

Ketiadaan penerbangan pengganti membuat rombongan mengalami kebingungan. Mereka hanya bisa mengandalkan koordinasi dengan KBRI Amman untuk menemukan jalan pulang. Situasi ini menimbulkan ketidakpastian yang semakin menekan mental para peserta, khususnya mengingat sebagian besar rombongan merupakan lansia yang membutuhkan perawatan khusus.

Suasana Mencekam di Yordania

Dwie menceritakan bahwa sejak Minggu (1/3/2026), langit Yordania di penuhi rudal yang beterbangan. Sirine ambulans dan dentuman terdengar saling bersahutan sepanjang hari, menimbulkan kepanikan. Laporan Anadolu Ajansi mencatat 73 insiden akibat puing-puing rudal di berbagai kota, termasuk Amman, Zarqa, Madaba, Balqa Barat, Jaresh, Irbid, Aqaba, dan Badia Tengah.

“Kami bangun setiap pagi mendengar dentuman diiringi sirine ambulans. Suasana ini membuat kami sangat ketakutan,” ujar Dwie saat di hubungi pada Rabu (4/3/2026). Kekhawatiran semakin meningkat karena sebagian besar peserta rombongan sudah lanjut usia dan memiliki kebutuhan medis tertentu. Dwie menambahkan, jika situasi berlangsung lebih lama, kondisi psikologis mereka akan semakin terdampak.

Serangan Iran yang terjadi bertepatan dengan perayaan Hari Sabat umat Yahudi juga menambah ketegangan. Dwie khawatir eskalasi konflik bisa berdampak lebih luas dan membahayakan keselamatan rombongan.

Rombongan Ziarah

Cerita WNI Terjebak di Yordania di Tengah Gempuran Rudal Iran dan AS-Israel: Suara Dentuman hingga Ambulans, Kami Buntu

Upaya Evakuasi dan Bantuan KBRI Amman

Rombongan telah menghubungi KBRI Amman untuk meminta pertolongan. Beberapa negara lain sudah mengevakuasi warganya melalui penerbangan charter. Contohnya, Departemen Luar Negeri AS mengevakuasi warga Amerika dari Uni Emirat Arab, Yordania, dan Arab Saudi. Dwie berharap Pemerintah Indonesia juga segera melakukan langkah serupa.

“Kami berharap pemerintah bisa menolong melalui jalur evakuasi sebelum keadaan makin buruk. Kami hanya ingin dievakuasi selagi kondisi masih memungkinkan dan belum ada korban,” kata Dwie.

Sementara itu, logistik rombongan terbatas karena mereka bukan penduduk tetap Yordania. Biaya hidup sehari-hari menambah tekanan, di tambah kekhawatiran keluarga di Tanah Air dan tanggung jawab pekerjaan. KBRI Amman membantu dengan mengirimkan nasi kotak bertema masakan Indonesia dan menyediakan obat-obatan apabila di perlukan. Namun Dwie menilai bantuan ini belum cukup untuk mengatasi kecemasan rombongan.

Penjelasan Resmi KBRI Amman

Nur Ibrahim, Pejabat Fungsi Protokol dan Konsuler KBRI Amman, menjelaskan bahwa pihaknya menerima permintaan evakuasi rombongan Renata Tours pada Senin (2/3/2026) sore waktu setempat. Ibrahim menegaskan bahwa KBRI hanya dapat memberikan opsi penerbangan alternatif dan memantau kondisi WNI. Evakuasi baru bisa di lakukan setelah instruksi dari Pemerintah Pusat.

“KBRI Amman bukan pihak yang memutuskan evakuasi. Semua keputusan harus di setujui pemerintah pusat,” ujar Ibrahim. Saat ini, komunikasi dengan rombongan tetap di jaga secara aktif. Sebanyak 27 WNI wisatawan rohani dari rombongan berbeda berhasil meninggalkan Yordania menggunakan penerbangan alternatif via Kairo.

Selain itu, KBRI menyediakan bantuan makanan khas Indonesia dan obat-obatan bagi WNI yang membutuhkan. Ibrahim menambahkan, beberapa rombongan lain juga menghubungi KBRI Amman untuk meminta informasi tentang pesawat charter atau evakuasi.

Kekhawatiran dan Harapan Rombongan

Situasi yang tidak menentu membuat rombongan merasa terisolasi. Mereka berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret agar keselamatan mereka terjamin. Setiap hari yang berlalu tanpa kepastian evakuasi menambah tekanan psikologis, terutama bagi lansia dan peserta yang memiliki kondisi medis khusus.

Dwie menekankan satu hal: keselamatan rombongan harus menjadi prioritas. Mereka hanya menunggu keputusan pemerintah untuk mengevakuasi dengan cepat. Sementara itu, KBRI Amman terus berupaya membantu sebisa mungkin dengan logistik dan informasi.

Dengan koordinasi yang tepat antara pemerintah pusat dan perwakilan di luar negeri, Dwie dan rombongan berharap dapat segera meninggalkan Yordania dalam kondisi aman. Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan saat melakukan perjalanan ke luar negeri, khususnya di wilayah yang rawan konflik.