Kepolisian Resor (Polres) – Gayo Lues, Aceh, mengambil langkah konkret untuk memulihkan akses masyarakat pascabencana dengan membangun empat jembatan gantung di wilayah terdampak bencana hidrometeorologi. Inisiatif ini tidak hanya memudahkan mobilitas warga, tetapi juga mendukung pemulihan ekonomi lokal yang sempat terhenti akibat kerusakan infrastruktur.
Menurut Kapolres Gayo Lues, AKBP Hyrowo, pembangunan jembatan gantung menjadi bukti nyata komitmen Polri dalam membantu masyarakat kembali beraktivitas. “Jembatan ini akan menghubungkan desa-desa yang sempat terisolasi, sehingga warga bisa kembali mengakses kebun dan pasar dengan lebih mudah,” jelas Hyrowo, Selasa, di Gayo Lues.
Lokasi Strategis dan Manfaat Jembatan Gantung
Empat jembatan gantung di bangun di Kecamatan Putri Betung, Kabupaten Gayo Lues, masing-masing di Desa Pungke Jaya, Jeret Onom, Gumpang Lempuh, dan Ramung Toa. Setiap jembatan memiliki fungsi penting sebagai penghubung antarperkampungan, sekaligus memfasilitasi aktivitas pertanian dan perkebunan masyarakat.
Selain itu, pembangunan jembatan ini melibatkan kolaborasi antara Polres, masyarakat lokal, dan, dalam beberapa proyek, BKO Brimob Polda Sumatera Selatan. Dengan melibatkan berbagai pihak, pengerjaan jembatan berlangsung lebih cepat, sekaligus memastikan kualitas konstruksi dan keamanan warga.

Personel Polri membangun jembatan gantung di Gayo Lues, Aceh, Selasa (27/1/2026).
Mempercepat Mobilitas dan Aktivitas Ekonomi
Sebelumnya, warga kesulitan membawa hasil pertanian mereka ke pasar karena jembatan lama rusak parah akibat banjir bandang. Kehadiran jembatan gantung baru langsung mengubah kondisi tersebut. Dengan akses yang lancar, masyarakat kini dapat kembali mengelola kebun, membawa hasil bumi, dan menjalankan aktivitas ekonomi mereka.
“Jembatan gantung ini menghubungkan perkampungan dengan kebun dan pasar. Dengan begitu, mobilitas warga menjadi lebih lancar, dan aktivitas ekonomi dapat segera pulih,” kata Hyrowo.
Di Desa Pungke Jaya, pembangunan jembatan melibatkan puluhan personel Polres Gayo Lues bersama warga setempat, sehingga pekerjaan berjalan cepat. Begitu pula di Desa Jeret Onom, Polres bekerja sama dengan masyarakat untuk mempercepat penyelesaian proyek. Sementara itu, pembangunan di Desa Gumpang Lempuh mendapat dukungan tambahan dari Brimob, terutama untuk medan yang lebih menantang. Sedangkan jembatan di Desa Ramung Toa di pastikan akan rampung dalam waktu dekat, menandai upaya berkelanjutan pemerintah dalam memperkuat infrastruktur pascabencana.
Respons Positif Masyarakat
Masyarakat lokal menyambut pembangunan jembatan gantung dengan antusias. Ali Hanafiah (43), warga Desa Jeret Onom, menyatakan bahwa jembatan baru ini membuka kembali akses wilayah yang sempat terisolasi, sekaligus membangkitkan kembali perekonomian masyarakat.
“Kami sebelumnya kesulitan membawa hasil kebun ketika jembatan rusak. Kini, kami bisa kembali berkebun, menjual hasil bumi di pasar, dan memulihkan kehidupan sehari-hari pascabencana,” ujarnya. Dengan adanya jembatan ini, masyarakat mendapatkan kemudahan untuk menghidupkan kembali aktivitas ekonomi dan sosial mereka.
Strategi Berkelanjutan untuk Pemulihan Wilayah
Pembangunan jembatan gantung ini bukan sekadar proyek sementara. Hyrowo menekankan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi berkelanjutan untuk memastikan masyarakat memiliki akses aman, lancar, dan mendukung pemulihan sosial serta ekonomi secara menyeluruh.
Selain itu, kolaborasi antara Polres, masyarakat, dan institusi pendukung menunjukkan efektivitas pendekatan terpadu dalam menghadapi bencana. Tidak hanya menyediakan akses, jembatan gantung juga menjadi simbol pemulihan dan harapan bagi warga, sekaligus memberikan dorongan bagi pembangunan ekonomi lokal.
Dengan akses yang kembali lancar, masyarakat dapat memanfaatkan peluang ekonomi lebih optimal, meningkatkan hasil pertanian, dan memperkuat ketahanan sosial. Langkah ini menjadi bukti bahwa kerja sama antara pemerintah dan masyarakat mampu menciptakan solusi nyata dan berkelanjutan di tengah tantangan pascabencana.