Ikan Sapu-Sapu – Sering dianggap rendah nilai ekonomis karena hidup di perairan yang tercemar dan sering disebut ikan pengganggu. Namun, penelitian terbaru membuka pandangan baru. Ikan air tawar ini sebenarnya menyimpan potensi sebagai sumber protein tinggi apabila diolah secara tepat. Studi berjudul Kandungan Nutrisi Abon Ikan Sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) Asal Sungai Ciliwung, Indonesia menunjukkan kandungan protein abon melebihi standar nasional (SNI), sehingga layak dipertimbangkan sebagai pangan alternatif.

Populasi Ikan Sapu-sapu dan Pemilihan Sampel

Peneliti dari Universitas Al Azhar Indonesia bekerja sama dengan Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR), BATAN, mengambil sampel dari Sungai Ciliwung, Jakarta. Kawasan ini memiliki populasi ikan sapu-sapu yang melimpah, meskipun spesies ini berasal dari Amerika Selatan dan bersifat invasif. Populasi yang tinggi membuat ikan sapu-sapu mudah diperoleh, dan sekaligus menimbulkan tantangan ekologi. Peneliti memanfaatkan kondisi ini untuk menilai potensi nutrisinya.

Abon Ikan Sapu Sapu

Sejumlah warga mengumpulkan dan menumpuk daging ikan sapu-sapu yang telah dipisahkan dari kulitnya di atas rakit plastik di aliran Sungai Ciliwung, kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis (22/1/2026).

Proses Pembuatan Abon

Tim peneliti menyiapkan daging ikan sapu-sapu dengan cara di fillet dan di cuci bersih. Selanjutnya, daging di beri perasan jeruk nipis dan di rebus selama 20 menit hingga matang. Setelah itu, daging di suwir halus untuk di masak bersama bumbu halus berupa bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, dan lengkuas.

Proses memasak berlanjut dengan penambahan santan kelapa, daun salam, dan daun jeruk. Peneliti mengaduk adonan selama kurang lebih dua jam hingga berubah menjadi kecokelatan dan kering seperti abon. Proses ini memastikan rasa lebih kaya dan kandungan nutrisi tetap optimal. Strategi pengolahan yang sistematis ini menjadi kunci agar ikan sapu-sapu bisa berubah menjadi produk bernilai gizi tinggi.

Kandungan Protein dan Nilai Gizi

Hasil analisis menggunakan metode Kjeldahl menunjukkan bahwa abon ikan sapu-sapu memiliki kadar protein sebesar 39,68 persen. Angka ini melebihi standar minimal SNI 7690.1:2013, yaitu 30 persen, dan meskipun lebih rendah dari kadar protein daging segar yang mencapai 50,05 persen, nilai protein tetap tinggi.

Peneliti menjelaskan bahwa kadar protein meningkat karena kadar air berkurang selama proses pengolahan. Semakin sedikit kadar air dalam bahan pangan, semakin tinggi persentase protein dan lemak yang terkandung. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan pengurangan air dalam makanan meningkatkan konsentrasi nutrisi.

Selain protein tinggi, ikan sapu-sapu juga memiliki sifat fungsional yang baik, baik dari sisi nutrisi maupun karakteristik fisiko-kimia. Artinya, ikan ini tidak hanya memberi nilai gizi tinggi tetapi juga memiliki potensi sebagai bahan pangan olahan alternatif, termasuk dalam bentuk abon, nugget, atau olahan lainnya.

Peluang dan Tantangan

Pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai abon membuka peluang ganda. Pertama, masyarakat bisa mendapatkan sumber protein alternatif yang terjangkau dan bernilai gizi tinggi. Kedua, pengolahan ikan invasif ini membantu mengendalikan populasi ikan sapu-sapu yang melimpah di perairan Indonesia.

Namun, penelitian juga menyoroti pentingnya memperhatikan lingkungan tempat ikan hidup. Populasi ikan sapu-sapu yang melonjak, seperti di Sungai Ciliwung, menandakan adanya pencemaran. Dominasi ikan ini menjadi indikator bio-ekologi bahwa keseimbangan ekosistem terganggu. Oleh karena itu, keamanan lingkungan tetap menjadi faktor utama sebelum konsumsi.

Pakar kesehatan menyebut risiko utama berasal dari logam berat dan bakteri yang dapat menumpuk dalam tubuh ikan akibat pencemaran. Kandungan logam berat bersifat akumulatif, sehingga meskipun di masak, zat berbahaya tidak hilang sepenuhnya. Konsumsi ikan tercemar dapat menimbulkan gejala jangka pendek seperti mual dan muntah, dan risiko jangka panjang seperti kerusakan hati dan ginjal. Dengan demikian, pengawasan kualitas lingkungan tetap menjadi syarat utama untuk menjadikan ikan sapu-sapu sebagai pangan aman.

Kesimpulan

Ikan sapu-sapu memiliki potensi sebagai sumber protein tinggi melalui pengolahan menjadi abon. Proses pengolahan yang tepat meningkatkan nilai gizi dan tekstur produk, sekaligus mengurangi kadar air sehingga konsentrasi protein meningkat. Pendekatan ini menawarkan alternatif pangan bernilai tambah sekaligus membantu pengendalian populasi ikan invasif.

Masyarakat dapat memanfaatkan ikan sapu-sapu sebagai produk gizi tinggi dengan memperhatikan sumber ikan dan kualitas lingkungan. Kombinasi antara inovasi pangan dan perhatian terhadap ekosistem memungkinkan ikan sapu-sapu berperan sebagai solusi gizi tinggi sekaligus mitigasi dampak invasif. Strategi ini menciptakan peluang berkelanjutan untuk pengembangan produk olahan ikan lokal dengan nilai ekonomi dan kesehatan tinggi.