Wali Kota Jakarta Barat – Iin Mutmainnah, menegaskan bahwa kawasan Pecinan Glodok di Tamansari memiliki potensi budaya dan warisan yang kuat sehingga layak diintegrasikan dengan Kota Tua Jakarta di bawah satu payung wisata. Integrasi ini bertujuan menciptakan destinasi wisata yang lebih lengkap, menghadirkan pengalaman budaya, kuliner, dan sejarah dalam satu kawasan yang saling terhubung.
Pesona Budaya dan Warisan di Pecinan Glodok
Menurut Iin, Pecinan Glodok menawarkan berbagai pernak-pernik hingga kuliner khas yang mampu menarik wisatawan lokal maupun internasional. Kawasan ini menyuguhkan suvenir unik, hidangan tradisional, dan berbagai aktivitas budaya yang bisa dinikmati semua kalangan. Oleh karena itu, integrasi dengan Kota Tua memungkinkan pengunjung merasakan pengalaman wisata yang lebih kaya dan menyeluruh.
Selain itu, Pecinan Glodok memiliki nilai edukatif dan literasi budaya. Wisatawan tidak hanya menikmati hiburan, tetapi juga mempelajari sejarah, arsitektur, dan tradisi lokal yang telah bertahan lama. Hal ini menjadikan kawasan tersebut bukan sekadar destinasi belanja atau kuliner, tetapi juga pusat edukasi budaya yang hidup.

Situasi di kawasan wisata Pecinan Glodok, Tamansari, Jakarta Barat, Selasa (20/1/2026). ANTARA/Risky Syukur/aa.
Integrasi Wisata: Konsep dan Manfaat
Iin menekankan bahwa pemerintah DKI Jakarta melalui Dinas Parekraf dan Dinas Kebudayaan akan menyusun konsep integrasi secara matang. Konsep ini akan memastikan bahwa wisata di Pecinan Glodok dan Kota Tua terasa nyaman, aman, dan menawarkan pengalaman yang lebih menarik bagi masyarakat maupun turis.
Lebih jauh, integrasi kedua kawasan ini akan mendatangkan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi lokal. Aktivitas wisata yang meningkat akan memberi peluang bagi pedagang, pemilik restoran, penginapan, dan sektor kreatif lainnya. Dengan kata lain, pengunjung yang datang ke Kota Tua bisa sekaligus mengeksplorasi Pecinan Glodok, sehingga kedua kawasan saling menguntungkan.
Tantangan Penataan Kawasan
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menyebut bahwa salah satu tantangan utama adalah parkir liar yang masih marak di Pecinan Glodok. Ia menekankan bahwa pengaturan kawasan harus di lakukan secara bertahap dan terukur agar integrasi berjalan lancar.
Tahap awal fokus revitalisasi akan di lakukan di Kota Tua, sambil menata kawasan Glodok untuk mengakomodasi wisatawan. Apabila penataan berhasil, Glodok memiliki potensi menarik lebih banyak turis di bandingkan destinasi serupa di kawasan regional, bahkan bisa bersaing dengan destinasi seperti Malaka di Malaysia.
Potensi Glodok sebagai Destinasi Wisata Lengkap
Jumlah kunjungan harian di Kota Tua mencapai sekitar 2,5 juta orang, termasuk pengguna Transjakarta, MRT, dan Kereta Api Listrik. Dengan pengaturan yang lebih tertata, Glodok bisa menjadi alternatif penginapan bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Tua. Kawasan ini sudah memiliki banyak hostel dan penginapan, sehingga memudahkan wisatawan menginap dengan nyaman dan melanjutkan eksplorasi di pagi atau sore hari.
Selain itu, tersedianya kuliner khas, suvenir, dan aktivitas budaya di Pecinan Glodok menambah nilai lebih bagi wisatawan. Mereka bisa merasakan pengalaman lengkap, mulai dari sejarah dan warisan budaya di Kota Tua hingga nuansa tradisi Tionghoa di Glodok. Dengan kata lain, integrasi ini menciptakan ekosistem wisata yang saling melengkapi dan menarik untuk di kunjungi dalam satu perjalanan.
Kesimpulan
Integrasi Pecinan Glodok dengan Kota Tua merupakan langkah strategis untuk mendorong wisata budaya di Jakarta. Kedua kawasan ini memiliki potensi saling melengkapi, dari sejarah, kuliner, hingga aktivitas edukatif dan budaya. Penataan yang baik, pengaturan parkir, dan revitalisasi fasilitas akan membuat pengunjung merasa nyaman, meningkatkan daya tarik wisata, dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
Dengan perencanaan yang matang, integrasi ini akan menghadirkan destinasi wisata terpadu yang memadukan warisan budaya, kuliner khas, dan pengalaman edukatif, sehingga Jakarta semakin di kenal sebagai kota yang kaya sejarah dan budaya.