Artificial Intelligence (AI) – Kini melampaui batas industri dan kesehatan manusia. Teknologi ini mulai merambah sektor peternakan, khususnya dalam pemantauan kesehatan sapi di padang penggembalaan. Inovasi terbaru menunjukkan bahwa AI mampu mendeteksi demam dan indikasi penyakit pada sapi hanya melalui pengamatan ekspresi wajah, tanpa kontak fisik sama sekali. Pendekatan ini membuka peluang besar bagi peternakan modern yang mengelola ratusan hingga ribuan ekor ternak.
Berbeda dengan manusia, sapi tidak mampu menyampaikan rasa sakit atau keluhan secara langsung. Sebaliknya, sapi hanya menunjukkan perubahan perilaku yang sering kali tampak samar. Sapi yang sakit cenderung makan lebih sedikit, bergerak lebih lambat, atau berdiri lebih lama dari biasanya. Di peternakan berskala besar, peternak kerap melewatkan tanda-tanda ini. Oleh karena itu, teknologi berbasis AI hadir sebagai solusi untuk meningkatkan ketepatan dan kecepatan deteksi penyakit.
Kamera Termal dan AI Mendeteksi Demam Tanpa Sentuhan
Selama puluhan tahun, peternak mengandalkan termometer rektal untuk mengukur suhu tubuh sapi. Metode ini memang memberikan hasil akurat. Namun, cara tersebut memerlukan waktu, tenaga terlatih, dan interaksi langsung dengan hewan. Selain itu, proses ini sering memicu stres pada sapi dan meningkatkan risiko cedera bagi peternak.
Sebagai alternatif, para peneliti kini mengembangkan pendekatan tanpa sentuhan. Sebuah studi yang di publikasikan dalam jurnal Smart Agricultural Technology pada Desember 2025 memperkenalkan sistem berbasis kamera termal dan AI. Sistem ini mampu memperkirakan suhu tubuh sapi hanya dengan memindai wajahnya. Hewan berdarah hangat melepaskan panas melalui area tertentu, dan kamera termal menangkap pola panas tersebut secara detail. Selanjutnya, AI mempelajari pola tersebut dan menghubungkannya dengan kondisi kesehatan sapi.
Teknologi ini hadir dalam bentuk perangkat bernama CattleFever. Alat ini membantu peternak mendeteksi gejala awal penyakit sebelum tanda klinis berkembang lebih jauh. Dengan cara ini, peternak dapat mengambil tindakan lebih cepat dan mencegah penyebaran penyakit ke seluruh kawanan.

ilustrasi sapi. AI Mampu Deteksi Demam Sapi Lewat Ekspresi Wajah Tanpa Sentuhan, Bagaimana Caranya?(Pexels)
Pelatihan AI untuk Membaca Wajah Sapi
Penelitian ini dipimpin oleh Trong Thang Pham, mahasiswa doktoral di laboratorium riset kecerdasan buatan, visi komputer, dan robotika University of Arkansas di Fayetteville, Amerika Serikat. Pham menekankan bahwa tim peneliti tidak bertujuan menggantikan peran dokter hewan. Sebaliknya, tim ingin menyediakan alat praktis agar peternak dapat memantau kesehatan ternak secara rutin dengan gangguan minimal.
Untuk melatih sistem, tim peneliti membangun dataset dari awal. Ribuan anak sapi ditempatkan sebentar di kandang, sementara kamera merekam citra visual dan termal selama sekitar 20 detik per ekor. Pada saat yang sama, peneliti mengukur suhu tubuh sapi menggunakan termometer rektal sebagai pembanding. Selanjutnya, tim menandai wajah sapi dengan 13 titik acuan dan melabeli ratusan gambar secara manual. Setelah itu, AI mempelajari ribuan gambar tambahan secara otomatis.
Dataset ini dikenal sebagai CattleFace-RGBT, yang menggabungkan data visual dan termal. Hasil analisis menunjukkan bahwa area mata dan lubang hidung memberikan indikator paling akurat untuk memperkirakan suhu tubuh internal sapi.
Akurasi Tinggi dan Tantangan Implementasi Lapangan
Dengan metode pembelajaran mesin random forest regression, sistem ini mampu memprediksi suhu tubuh sapi dengan selisih sekitar satu derajat Celsius dibandingkan termometer konvensional. Tingkat akurasi ini menunjukkan potensi besar teknologi AI dalam pemantauan kesehatan ternak secara non-invasif.
Namun demikian, penerapan di lingkungan peternakan nyata masih menghadapi tantangan. Di lapangan, sapi tidak selalu berdiri diam atau menghadap kamera. Oleh karena itu, tim peneliti berencana mengumpulkan lebih banyak data di kondisi dunia nyata, termasuk saat sapi bergerak atau berlarian. Langkah ini bertujuan meningkatkan kemampuan AI dalam membaca berbagai situasi lapangan.
Menuju Peternakan yang Lebih Efisien dan Manusiawi
Sebagai bentuk kolaborasi ilmiah, tim peneliti membagikan dataset CattleFace-RGBT secara terbuka agar ilmuwan lain dapat ikut mengembangkan teknologi ini. Pendekatan terbuka ini mempercepat inovasi dan mendorong adopsi teknologi yang lebih luas di sektor peternakan.
Meskipun inovasi ini tidak selalu menarik perhatian publik secara luas, dampaknya sangat signifikan. Pemeriksaan tanpa sentuhan mengurangi stres hewan, meningkatkan keselamatan peternak, serta mempercepat deteksi penyakit. Dengan teknologi ini, peternakan modern dapat bergerak menuju sistem yang lebih efisien, berkelanjutan, dan manusiawi. Kadang, kemajuan besar justru hadir melalui perubahan kecil—seperti pola panas di wajah sapi yang memberi sinyal bahwa seekor hewan membutuhkan perhatian lebih awal.