Sate maranggi selama ini melekat kuat sebagai ikon kuliner khas Jawa Barat. Banyak penikmat kuliner mengenal hidangan ini melalui daerah Purwakarta, Bogor, hingga kawasan Puncak–Cianjur. Namun kini, pencinta sate maranggi tidak perlu lagi bepergian jauh. Di kawasan Depok II, sebuah rumah makan pendatang baru bernama Sate Maranggi Mas Kulin menghadirkan sate maranggi dengan pendekatan rasa premium dan konsep yang serius.
Rumah makan ini berlokasi di Depok dan langsung menarik perhatian karena menawarkan sate maranggi dengan daging pilihan serta lemak yang lembut dan meleleh di mulut. Harga per porsi mulai dari Rp 35 ribu, sehingga tetap terjangkau meskipun menggunakan bahan berkualitas tinggi.
Berawal dari Warisan Keluarga dan Pengalaman Rasa
Don, pemilik Sate Maranggi Mas Kulin, menceritakan bahwa bisnis ini berakar dari perjalanan panjang keluarganya di dunia kuliner. Sang ibu pernah mengelola usaha katering sejak era 1970-an hingga awal 2000-an di Surabaya dan Merak. Meskipun usaha tersebut sempat berhenti, kecintaan terhadap dunia masak tetap tumbuh di lingkungan keluarga.
Kemudian, saat pandemi Covid-19 melanda, Don melihat peluang untuk melanjutkan warisan tersebut melalui konsep rumah makan. Berbekal pengalaman mengenal bumbu sejak kecil, ia mulai merancang usaha kuliner dengan pendekatan yang lebih personal dan terukur.

Sate Maranggi Mas Kulin yang full daging dibanderol Rp 53 ribu per porsi isi 7. Foto: Andi Annisa DR/detikfood
Sate Maranggi Dipilih sebagai Menu Utama Keluarga
Don secara sadar memilih sate maranggi sebagai menu utama. Alasannya sederhana namun kuat. Ia dan keluarganya memiliki ketertarikan besar terhadap sate maranggi. Bahkan, mereka sering berkeliling Jawa Barat hanya untuk mencicipi berbagai versi sate maranggi dari banyak penjual.
Dari perjalanan rasa tersebut, Don membangun apa yang ia sebut sebagai “bank rasa”. Selanjutnya, ia mulai meracik resep sendiri berdasarkan pengalaman mencicipi berbagai karakter bumbu sate maranggi. Proses ini tidak berjalan singkat. Don melakukan revisi resep hingga 24 kali sebelum akhirnya membuka Sate Maranggi Mas Kulin pada Juni 2025. Seiring waktu, ia kembali menyempurnakan racikan bumbu hingga mencapai revisi ke-26 berdasarkan masukan pelanggan.
Filosofi Nama dan Konsep Maskulin
Nama “Mas Kulin” bukan sekadar nama dagang. Don memilih nama tersebut sebagai representasi hobinya berolahraga di gym. Ia ingin menghadirkan kesan maskulin, kuat, dan tegas, yang sejalan dengan karakter sate maranggi versi racikannya. Konsep ini kemudian tercermin dalam pemilihan bahan, porsi, hingga cita rasa.
Pemilihan Daging Premium Jadi Kunci Utama
Keistimewaan Sate Maranggi Mas Kulin terletak pada pemilihan bahan baku. Don hanya menggunakan bagian has dalam atau tenderloin sapi. Bagian ini terkenal sangat empuk, tetapi jumlahnya terbatas. Dalam satu ekor sapi, tenderloin hanya tersedia sekitar lima kilogram.
Karena kebutuhan harian bisa mencapai 30 kilogram, Don harus mengandalkan pasokan dari beberapa pemasok sekaligus. Saat ini, ia bekerja sama dengan empat supplier untuk menjaga konsistensi kualitas. Selain daging, Don juga memilih lemak sapi Australia dengan sistem pakan rumput atau grass-fed. Pemilihan ini bertujuan menghasilkan tekstur lemak yang juicy dan rasa yang bersih.
Proses Marinasi Panjang untuk Rasa Maksimal
Selain bahan, proses marinasi memegang peran krusial. Don menerapkan waktu marinasi minimal empat jam dan maksimal 12 jam. Lamanya proses ini menyesuaikan dengan alur pembelian pelanggan. Ketika pesanan mengalir lancar, daging dengan marinasi empat jam sudah siap ditusuk dan dibakar.
Don juga menerapkan teknik marinasi dingin menggunakan freezer khusus. Ia mengatur suhu dingin pada level sedang agar bumbu meresap tanpa membekukan daging. Dengan cara ini, tekstur daging tetap empuk dan rasa bumbu menyatu sempurna hingga ke serat terdalam.
Menu Sate Maranggi dengan Pilihan Lengkap
Sate Maranggi Mas Kulin menyajikan seporsi sate isi tujuh tusuk lengkap dengan acar tomat dan pilihan sambal. Pelanggan dapat memilih sambal matah, sambal oncom, atau sambal kecap. Harga menu bervariasi, mulai dari Rp 35 ribu untuk sate full lemak, Rp 45 ribu untuk sate campur daging dan lemak, hingga Rp 53 ribu untuk sate full daging. Selain itu, tersedia juga sate maranggi ayam seharga Rp 35 ribu.
Setiap pesanan diproses setelah pelanggan memesan. Waktu tunggu sekitar 10 menit menghasilkan sate dengan tampilan menggoda. Potongan daging dan lemak terlihat besar, berwarna cokelat gelap, namun tidak gosong.
Cita Rasa Kuat dengan Tekstur Juara
Saat disantap, daging terasa sangat empuk dan mudah digigit. Lemak menghadirkan sensasi juicy dan langsung meleleh di mulut. Bumbu manis gurih dari ketumbar dan rempah halus lainnya terasa meresap hingga ke dalam. Tanpa sambal pun, sate ini sudah menghadirkan rasa yang seimbang. Namun, sambal oncom pedas gurih mampu meningkatkan kompleksitas rasa khas sate maranggi.
Menu Pelengkap dan Olahan Lain yang Tak Kalah Menarik
Sebagai pelengkap, pengunjung dapat memesan Nasi Daun Jeruk yang harum atau Ketan Bakar yang legit. Selain sate, tersedia juga Sop Iga Mas Kulin dengan porsi iga yang royal dan kuah bening gurih menyegarkan.
Menariknya, Mas Kulin juga menyajikan mie ayam berkuah kental ala Bu Tumini, Jogja. Varian mie ayam dengan kuah tetelan menghadirkan rasa gurih rempah dengan sentuhan ringan mirip kari. Tekstur mie yang al dente semakin memperkuat daya tarik menu ini.
Minuman Segar sebagai Penutup
Untuk minuman, jeruk nipis madu menjadi andalan, meskipun ketersediaannya terbatas. Alternatif lain seperti es jeruk peras dan es teh manis tetap mampu menyegarkan setelah menikmati hidangan berbumbu kuat.
Penutup: Destinasi Baru Pecinta Sate Maranggi
Melalui konsep matang, bahan premium, dan proses yang konsisten, Sate Maranggi Mas Kulin berhasil menghadirkan pengalaman sate maranggi berkualitas di Depok. Kehadirannya memperluas peta kuliner sate maranggi sekaligus memberi pilihan baru bagi pencinta daging dengan cita rasa khas Jawa Barat.