Malaysia Perkuat Pertahanan menjadi perhatian Perdana Menteri Anwar Ibrahim setelah pembangunan fasilitas militer Filipina di Pulau Balabac, Palawan, berlangsung dekat wilayah Sabah. Anwar menilai perkembangan tersebut perlu mendapat perhatian karena lokasi fasilitas strategis itu hanya berjarak beberapa kilometer dari Malaysia timur.
Filipina saat ini terus meningkatkan fasilitas pertahanan di Pulau Balabac. Manila juga membangun landasan pacu sepanjang sekitar tiga kilometer untuk mendukung kegiatan militernya.
Pulau tersebut termasuk dalam sembilan lokasi yang tercakup dalam Enhanced Defense Cooperation Agreement (EDCA). Melalui kerja sama itu, Filipina memberikan akses kepada pasukan Amerika Serikat untuk menggunakan sejumlah lokasi yang telah kedua negara sepakati. Washington juga dapat memberikan pendanaan bagi pembangunan infrastruktur pertahanan di kawasan tersebut.
Anwar menyampaikan kekhawatirannya dalam sebuah acara anggaran di Putrajaya pada 18 Agustus 2026. Menurut dia, posisi Malaysia sebagai negara tetangga membuat Kuala Lumpur perlu mencermati perkembangan keamanan di sekitar Sabah.
Ia juga mengaitkan persoalan itu dengan klaim Filipina terhadap Sabah. Meski demikian, Anwar menegaskan bahwa hubungan bilateral Kuala Lumpur dan Manila tetap berjalan dengan baik.
Malaysia Ingin Tingkatkan Kemampuan Pertahanan Dasar
Anwar memahami Malaysia tidak memiliki skala fasilitas militer dan kekuatan udara yang sama dengan pembangunan di Pulau Balabac. Namun, kondisi tersebut tidak membuat Kuala Lumpur mengabaikan kebutuhan pertahanan nasional.
Menurut Anwar, Malaysia setidaknya perlu memperkuat kemampuan dasar pertahanannya. Pemerintah memandang langkah itu semakin penting ketika persaingan strategis Amerika Serikat dan China ikut memengaruhi situasi keamanan regional.
Rencana peningkatan kemampuan tersebut berpotensi membutuhkan anggaran tambahan dalam jumlah besar. Pemerintah Malaysia diperkirakan perlu menyiapkan belanja mulai dari ratusan juta hingga miliaran ringgit.
Penguatan pertahanan juga menjadi bagian dari upaya Malaysia menjaga kepentingan nasionalnya di kawasan. Terlebih, dinamika Laut China Selatan terus berkembang dan melibatkan sejumlah negara dengan kepentingan strategis berbeda.
Kedekatan Pulau Balabac dengan Sabah Jadi Perhatian
Letak geografis Pulau Balabac membuat pembangunan fasilitas militer di kawasan itu mendapat perhatian khusus dari Kuala Lumpur. Perjalanan dari pulau tersebut menuju Pulau Banggi di Malaysia hanya membutuhkan waktu sekitar 20 menit.
Kedekatan tersebut memiliki sensitivitas tersendiri karena Filipina masih mempertahankan klaim historis atas Sabah. Wilayah itu bergabung dengan Federasi Malaysia ketika negara tersebut terbentuk pada 1963. Kuala Lumpur secara konsisten menolak klaim Manila atas Sabah.
Perselisihan tersebut memang tidak pernah membawa kedua negara ke perang berskala penuh. Namun, persoalan Sabah beberapa kali memicu ketegangan diplomatik antara Malaysia dan Filipina.
Salah satu peristiwa paling serius terjadi pada 2013. Saat itu, kelompok bersenjata yang mengaku mengikuti ahli waris Kesultanan Sulu memasuki wilayah Sabah timur. Kelompok tersebut berusaha menegaskan klaim historis mereka melalui aksi bersenjata.
Pasukan keamanan Malaysia kemudian menghadapi kelompok tersebut dalam bentrokan yang berlangsung lebih dari satu bulan. Pemerintah Filipina tidak terlibat langsung dalam operasi kelompok bersenjata itu.
Terlepas dari sengketa tersebut, Malaysia dan Filipina tetap menjaga hubungan bilateral. Pada 18 Agustus 2026, kedua negara bahkan sepakat meningkatkan kerja sama dalam bidang keamanan dan ekonomi.

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim saat menghadiri KTT ke-47 ASEAN di Kuala Lumpur, 27 Oktober 2025.
Filipina Jadikan Balabac Pangkalan Operasi Terdepan
Militer Filipina berencana mengembangkan Pulau Balabac sebagai pangkalan operasi terdepan bagi angkatan udaranya. Manila berharap fasilitas tersebut dapat memperluas jangkauan pertahanan udara Filipina.
Pemerintah Filipina juga mempercepat pembangunan sejumlah proyek strategis di pulau itu. Langkah tersebut berkaitan dengan upaya Manila meningkatkan kemampuan militernya di sekitar Laut China Selatan.
Kawasan tersebut selama beberapa tahun terakhir kerap menjadi titik gesekan antara Filipina dan China. Kapal kedua negara beberapa kali menghadapi situasi tegang ketika menjalankan aktivitas di wilayah yang menjadi sengketa.
Filipina juga melibatkan negara mitranya dalam latihan militer di Balabac. Dalam latihan Balikatan pada Mei 2026, pasukan Filipina, Amerika Serikat, dan Australia menjalankan latihan untuk menguasai sekaligus mempertahankan lapangan terbang di pulau tersebut.
Angkatan Darat Amerika Serikat turut mengerahkan sistem peluncur roket HIMARS. Pasukan AS juga melakukan latihan penembakan amunisi aktif dengan sasaran simulasi maritim di kawasan lepas pantai.
EDCA Dorong Pembangunan Infrastruktur Militer
Washington dan Manila menyatakan investasi dalam kerangka EDCA bertujuan menunjang latihan bersama serta meningkatkan kemampuan pasukan kedua negara untuk bekerja secara terintegrasi.
Kerja sama pertahanan tersebut juga memungkinkan Amerika Serikat mendukung pembangunan fasilitas di sejumlah lokasi strategis Filipina. Pada 2023, Washington mengumumkan rencana pendanaan lebih dari 100 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,56 triliun untuk proyek infrastruktur di pangkalan militer yang masuk skema EDCA.
Perkembangan itu membuat Malaysia semakin memperhatikan perubahan lingkungan keamanan di sekitarnya. Bagi Kuala Lumpur, kedekatan fasilitas militer Balabac dengan Sabah menjadi faktor yang tidak dapat diabaikan.
Anwar karena itu mendorong Malaysia memperkuat pertahanan tanpa mengganggu hubungan baik dengan Filipina. Pemerintahnya berupaya meningkatkan kesiapan nasional sambil tetap mempertahankan kerja sama keamanan dan ekonomi dengan negara tetangga tersebut.
Pada saat bersamaan, Anwar juga menghadapi tantangan politik domestik. Kemunduran partainya dalam pemilihan tingkat negara bagian baru-baru ini turut meningkatkan tekanan terhadap koalisi pemerintahannya.
Meski menghadapi berbagai persoalan, kebijakan Malaysia perkuat pertahanan menunjukkan perhatian Kuala Lumpur terhadap perubahan situasi keamanan regional. Pembangunan fasilitas militer di Balabac, persaingan Amerika Serikat dan China, serta sensitivitas persoalan Sabah membuat Malaysia memandang peningkatan kemampuan pertahanan sebagai kebutuhan strategis.